Opini
Mengangkat Pandangan, Memulihkan Harapan: Membaca Kunjungan Paus Leo ke Spanyol
Dalam banyak kesempatan selama kunjungannya, Paus Leo XIV menekankan solidaritas dengan migran, kaum miskin, dan mereka yang terpinggirkan.
Migrasi menjadi isu yang sangat sensitif. Gelombang migran dari Afrika dan Timur Tengah telah memicu perdebatan keras mengenai identitas nasional, keamanan, dan hak asasi manusia. Di sinilah suara Paus menjadi penting.
Leo XIV menegaskan bahwa martabat manusia tidak boleh ditentukan oleh status kewarganegaraan, ras, agama, atau asal-usul. Ia mengkritik kecenderungan eksklusivisme politik dan menegaskan bahwa iman Kristen harus diwujudkan dalam pelayanan kepada mereka yang rentan.
Dari perspektif filsafat politik, pesan ini mengingatkan pada pemikiran Hannah Arendt dalam The Human Condition (1958). Arendt menegaskan bahwa kemanusiaan sejati lahir ketika manusia mampu hadir dalam ruang publik sebagai sesama yang setara. Migran bukan ancaman; mereka adalah manusia yang memiliki hak untuk diakui.
Dari perspektif etika, Leo XIV menghidupkan kembali prinsip dasar ajaran sosial Gereja: human dignity atau martabat manusia. Menurut Jacques Maritain (The Rights of Man and Natural Law, 1943), hak asasi manusia tidak berasal dari negara, melainkan dari kodrat manusia yang diciptakan Allah. Karena itu, negara yang menolak martabat migran sebenarnya sedang menolak fondasi moralnya sendiri.
Secara yuridis, pesan Paus sejalan dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 serta berbagai instrumen hukum internasional yang menegaskan perlindungan terhadap pengungsi dan migran. Dengan demikian, Madrid menjadi panggung tempat Gereja menunjukkan bahwa iman Kristen tidak boleh dipisahkan dari perjuangan bagi keadilan sosial.
Barcelona dan Sagrada Familia: Ketika Iman Bertemu Keindahan
Puncak simbolis kunjungan Paus terjadi di Barcelona. Di sana Leo XIV meresmikan Menara Yesus Kristus di Basilika Sagrada Familia yang selesai tepat pada peringatan seratus tahun wafat Antoni Gaudí.
Peristiwa ini jauh melampaui urusan arsitektur. Sagrada Familia adalah salah satu manifestasi paling agung dari dialog antara iman dan budaya. Gaudí memahami bahwa keindahan bukan sekadar estetika, sebagaimana keindahan gaya tiki-taka permainan raksasa bola kaki Catalan, FC Barcelona.
Keindahan adalah jalan menuju Allah. Hans Urs von Balthasar dalam The Glory of the Lord (1982) menyatakan bahwa keindahan merupakan salah satu jalan utama pewahyuan ilahi. Manusia modern mungkin tidak lagi mendengarkan khotbah, tetapi masih dapat disentuh oleh keindahan.
Dalam perspektif filosofis, Sagrada Familia adalah kritik diam terhadap utilitarianisme modern. Ketika banyak bangunan dibangun demi efisiensi ekonomi, Gaudí membangun sebuah “katedral harapan” selama lebih dari satu abad. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal dapat diukur dengan keuntungan material.
Dari perspektif antropologis, manusia adalah homo symbolicus. Ernst Cassirer dalam An Essay on Man (1944) menjelaskan bahwa manusia hidup melalui simbol. Katedral bukan hanya bangunan. Ia adalah simbol pencarian makna yang melampaui kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks sekularisasi Eropa yang semakin kuat, peresmian Menara Yesus Kristus Sagrada Familia merupakan pesan bahwa agama belum kehilangan relevansinya. Meskipun angka keanggotaan Gereja menurun di Spanyol, kebutuhan manusia akan makna tetap tidak pernah hilang. Karena itu, Barcelona menunjukkan bahwa evangelisasi masa depan tidak hanya membutuhkan argumen teologis, tetapi juga kesaksian keindahan.
Kaum Muda, Krisis Makna, dan Psikologi Harapan
Salah satu agenda penting kunjungan ini adalah pertemuan besar dengan kaum muda yang dipuncaki dengan perarakan dan pentakhtaan Sakramen Mahakudus. Pilihan tersebut menunjukkan kepekaan Leo XIV terhadap salah satu krisis terbesar zaman ini: krisis makna.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa generasi muda mengalami tingkat kecemasan, kesepian, dan depresi yang semakin tinggi. Kemajuan teknologi ternyata tidak otomatis menghasilkan kebahagiaan. Dalam pesannya kepada kaum muda, Paus mengingatkan bahaya disinformasi, ilusi media sosial, dan pentingnya mencari kebenaran.
Dari perspektif psikologi eksistensial, Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning (1946) menegaskan bahwa manusia dapat bertahan dalam penderitaan apabila menemukan makna hidup. Krisis terbesar generasi muda bukan kurangnya informasi, melainkan kurangnya orientasi. Mereka hidup di tengah banjir data tetapi mengalami kelaparan makna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Kunjungan-Apostolik-Paus-Leo-XIV-di-Spanyol.jpg)