Opini
Mengangkat Pandangan, Memulihkan Harapan: Membaca Kunjungan Paus Leo ke Spanyol
Dalam banyak kesempatan selama kunjungannya, Paus Leo XIV menekankan solidaritas dengan migran, kaum miskin, dan mereka yang terpinggirkan.
Tema “Angkatlah Pandanganmu” menjadi sangat relevan. Ia mengajak kaum muda untuk tidak terjebak dalam budaya instan. Mengangkat pandangan berarti berani bermimpi, membangun cita-cita, dan melihat kehidupan sebagai panggilan.
Dalam perspektif pastoral, pendekatan Leo XIV menarik karena tidak bersifat moralistis. Ia tidak sekadar mengutuk budaya digital. Sebaliknya, ia mengajak kaum muda menjadi agen perubahan. Pendekatan ini sejalan dengan visi Paus Fransiskus dalam Christus Vivit (2019) bahwa orang muda bukan hanya masa depan Gereja, tetapi juga masa kini Gereja. Karena itu, kunjungan ke Madrid dan Barcelona memperlihatkan model evangelisasi yang dialogis, inklusif, dan penuh harapan.
Gereja sebagai Jembatan: Relevansi bagi Dunia dan Indonesia
Secara historis, kunjungan ini memiliki arti penting. Ini merupakan kunjungan paus pertama ke Spanyol dalam sekitar lima belas tahun terakhir dan terjadi pada masa relasi Gereja–negara sedang mengalami transformasi besar. Spanyol saat ini menghadapi berbagai isu kontroversial: aborsi, eutanasia, migrasi, identitas nasional, sekularisasi, dan hubungan antara agama dan negara.
Dalam situasi demikian, Leo XIV tidak datang untuk memperdalam konflik. Ia datang sebagai pembangun jembatan. Di sinilah letak kekuatan diplomasi Vatikan. Joseph Nye dalam Soft Power (2004) menjelaskan bahwa pengaruh terbesar tidak selalu berasal dari kekuatan militer atau ekonomi, melainkan dari daya tarik moral. Kepausan adalah salah satu bentuk soft power paling kuat di dunia. Paus tidak memiliki tentara. Tetapi kata-katanya mampu memengaruhi jutaan orang.
Secara praksis pastoral, kunjungan ini menunjukkan beberapa prioritas Gereja masa kini: Gereja harus hadir di tengah kaum miskin dan migran, Gereja harus berdialog dengan negara tanpa kehilangan identitas profetisnya, Gereja harus berbicara kepada kaum muda dengan bahasa yang mereka pahami, Gereja harus merawat budaya dan keindahan sebagai sarana evangelisasi, dan Gereja harus menjadi saksi harapan di tengah dunia yang cenderung pesimis.
Pesan ini sangat relevan bagi Indonesia. Sebagai bangsa plural yang menghadapi tantangan intoleransi, polarisasi politik, kesenjangan sosial, dan krisis kepercayaan publik, Indonesia membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok.
Kita membutuhkan pemimpin agama yang mampu menginspirasi dialog, bukan permusuhan. Kita membutuhkan Gereja yang hadir bagi masyarakat, bukan hanya bagi dirinya sendiri. Kita membutuhkan iman yang tidak hanya sibuk menjaga identitas, tetapi juga memperjuangkan martabat manusia.
Penutup: Menara yang Menunjuk ke Langit
Peresmian Menara Yesus Kristus di Sagrada Familia mungkin menjadi simbol paling kuat dari seluruh kunjungan ini. Menara selalu menunjuk ke atas. Ia mengingatkan manusia bahwa hidup tidak boleh berhenti pada dirinya sendiri.
Di tengah dunia yang sering menundukkan manusia pada ketakutan, kebencian, dan kepentingan sempit, Paus Leo XIV datang membawa pesan sederhana namun revolusioner: angkatlah pandanganmu. Lihatlah Allah yang tetap bekerja dalam sejarah. Lihatlah sesamamu yang membutuhkan solidaritas. Lihatlah masa depan yang masih mungkin dibangun bersama.
Pada akhirnya, kunjungan apostolik ke Madrid dan Barcelona bukan hanya perjalanan seorang paus ke sebuah negara. Ia adalah ziarah harapan bagi dunia yang sedang mencari arah. Dan mungkin, di tengah kelelahan peradaban modern, itulah pesan yang paling dibutuhkan manusia saat ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Kunjungan-Apostolik-Paus-Leo-XIV-di-Spanyol.jpg)