Opini
Cicipan Surga Itu Adalah Bola
Ketika dunia tengah gonjang ganjing, takdir menghadirkan sebuah jeda yakni Piala Dunia 2026.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Dewangga Ardhiananta
Ini adalah sebuah pasrah yang indah.
Sebuah pengakuan bahwa dalam bola, kita tidak selalu bisa memaksakan kehendak ego kita.
Saya mewawancarai seorang miskin di Boulevard Tuminting.
Dia hidup memulung.
Sampah plastik sepanjang pantai ia pungut kemudian tukar dengan uang sekedarnya.
Kadang uang itu tak cukup untuk makan sehari.
Juni ia rasakan sebagai puncak derita di mana harga naik tak wajar, uang menghilang, kesempatan kian sempit.
Toh ia tetap bersyukur, karena Juni juga adalah bulan bola. Bukan hanya agama, bola juga adalah candu.
"Terhibur karena bisa nonton bola bersama teman teman," kata dia.
Bukan hanya agama, bola juga adalah candu.
Bola juga adalah harapan bahwa masih ada yang baik di balik hal hal tidak baik.
Mengutip Plato, masih ada dunia ide di seberang sana, lepas dari bentuk yang membelenggu kehidupan.
Sepak bola, pada hakikatnya, adalah miniatur dari ziarah kehidupan manusia.
Sebagai seorang Calvinis saya percaya bahwa Tuhan memberikan sebuah cicipan surgawi agar kita semua yang berada di bumi ini dapat menyentuh surga dan percaya bahwa rumah yang kekal itu ada.
Tak ada kedamaian di bumi ini sejak zaman Adam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Suasana-nuansa-bola-di-Kuala-Jengki-Manado.jpg)