Catatan Seorang Jurnalis
Total Football dan Gotong Royong Ala Timnas Indonesia
Bukan Belanda. Tapi timnas Indonesia yang memakai gaya Total Football. Dan mereka berhasil. Timnas Oman dipermak 3-0.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Berposisi centre back kanan, tapi ia sering naik ke sayap kanan, bahkan hingga kotak penalti.
Sementara bek kanan Kevin Diks sering tiba-tiba muncul sebagai penyerang bayangan.
Adapun Joey Pelupessy berkali-kali mundur selangkah jadi stopper.
Yang paling fenomenal adalah Ole Romeny.
Ia terlihat seperti Johan Cruyff, sang legenda Total Football.
Pemain klub Oxford ini berada di mana-mana; striker, sayap, second line, gelandang box-to-box, hingga regista.
Untuk pertama kalinya Timnas Indonesia sukses memperagakan pressing tinggi.
Pemain Timnas juga mengisi ruang dan waktu dengan tepat hingga selalu terlihat lebih banyak di sisi lapangan manapun.
Melihat ini, entah bagaimana, saya teringat predestinasi.
Predestinasi adalah ajaran dari Calvinisme yang menyatakan bahwa Tuhan sedari awal telah memilih orang yang akan diselamatkan.
Dalam permainan Timnas Indonesia, saya melihat ada struktur taktis yang mendahului putusan pemain.
Dalam Calvinisme, ini artinya ada tatanan ilahi yang mendahului pilihan manusia.
Calvinisme menyatakan bahwa individu bebas bergerak dalam batas rencana Allah.
Bukankah ini mirip permainan Timnas yang bebas bergerak tapi dalam batas sistem?.
Kemudian para pemain punya fungsi dalam sistem.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/TIMNAS-INDONESIA-BukanBelanda-Tapi-timnas-IndonesiaLO0-864F.jpg)