Opini
Haji: Pertemuan Internasional dan Pelajaran Kosmopolitanisme
Boleh berbeda bahasa, berbeda bangsa, dan berbeda pengalaman hidup. Namun kita tetap berbagi satu rumah yang sama; kemanusiaan
Di era global saat ini, pelajaran tersebut menjadi semakin penting. Generasi muda hidup dalam dunia yang saling terhubung dan terus berinteraksi dengan beragam budaya, keyakinan, dan pandangan hidup.
Karena itu, kemampuan menghargai perbedaan bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan kebutuhan sosial.
Bagi masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Manado, pesan ini terasa sangat dekat. Daerah ini dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai etnis, agama, dan budaya yang hidup berdampingan dalam suasana relatif harmonis.
Modal sosial seperti inilah yang perlu terus dirawat di tengah berbagai tantangan zaman.
Pada akhirnya, haji mengajarkan bahwa manusia boleh datang dari arah yang berbeda, tetapi bergerak menuju tujuan yang sama.
Di hadapan Tuhan, perbedaan tidak dihapuskan, melainkan ditempatkan dalam kerangka persaudaraan yang lebih luas.
Dari Makkah, dunia belajar bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal.
Dan dari keluarga Ibrahim, kita belajar bahwa iman yang sejati tidak mempersempit cakrawala kemanusiaan, tetapi justru memperluasnya.
Sebab pada akhirnya, kita boleh berbeda bahasa, berbeda bangsa, dan berbeda pengalaman hidup. Namun kita tetap berbagi satu rumah yang sama; kemanusiaan. Wallahu a'lam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Foto-kolase-dengan-gambar-Tulisan-opini-Dekan-FTIK-IAIN-Manado.jpg)