Senin, 1 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Haji: Pertemuan Internasional dan Pelajaran Kosmopolitanisme

Boleh berbeda bahasa, berbeda bangsa, dan berbeda pengalaman hidup. Namun kita tetap berbagi satu rumah yang sama; kemanusiaan

Tayang:
Kolase
KOLASE - Foto kolase dengan gambar. Tulisan opini Dekan FTIK IAIN Manado, Arhanuddin Salim.  

Mereka dapat mempertahankan identitas masing-masing tanpa kehilangan rasa hormat kepada sesama.

Haji dan Transformasi Diri

Namun haji bukan sekadar pertemuan massa dalam jumlah besar. Ia adalah perjalanan menuju transformasi diri.

Pemikir Muslim Ali Syariati pernah mengingatkan, "Barangsiapa yang tidak memahami makna haji, ia akan pulang dari Makkah dengan koper penuh oleh-oleh dan pikiran yang kosong."

Pernyataan ini mengandung pesan penting bahwa haji tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni. 

Haji adalah perjalanan untuk membangun kesadaran baru tentang diri, sesama manusia, dan hubungan dengan Tuhan.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan bahwa seseorang yang tidak mampu mengendalikan dirinya tidak akan mampu mengendalikan apa pun. 

Sejalan dengan itu, Rasulullah saw. menegaskan bahwa orang yang kuat bukanlah yang menang dalam pertarungan fisik, melainkan yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Dengan demikian, inti haji bukan sekadar bergerak menuju Ka'bah, tetapi bergerak menuju kematangan moral. 

Ketika seseorang meninggalkan kenyamanan, melepaskan atribut sosial, dan hidup berdampingan dengan jutaan orang yang berbeda darinya, ia sedang belajar menaklukkan ego dan menumbuhkan kerendahan hati.

Pelajaran Kosmopolitan dari Keluarga Ibrahim

Pelajaran tersebut sesungguhnya berakar pada kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ibrahim adalah figur perantau yang hidup melintasi berbagai wilayah dan kebudayaan. 

Hajar berasal dari Mesir, sementara Ismail tumbuh di Makkah yang kemudian menjadi pusat perjumpaan berbagai bangsa.

Dalam perspektif ini, keluarga Ibrahim dapat dipahami sebagai simbol keluarga kosmopolit: keluarga yang memiliki keteguhan iman sekaligus keterbukaan terhadap keberagaman manusia. 

Mereka mengajarkan bahwa identitas yang kuat tidak harus melahirkan sikap eksklusif, tetapi justru dapat menjadi dasar untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved