Opini
Refleksi Iduladha 1447 H: Kurban yang Menyembuhkan Bumi
Dalam gema takbir yang mengguncang langit Nusantara, manusia modern kembali dihadapkan pada pertanyaan paling purba:
Tradisi berbagi daging kurban menciptakan pengalaman emosional kolektif: rasa dihargai, diterima, dan diingat sebagai bagian dari komunitas. Dalam masyarakat yang makin terfragmentasi, pengalaman seperti ini sangat penting untuk menjaga kohesi sosial.
Di Sulawesi Utara, budaya kekeluargaan lintas agama masih menjadi modal sosial yang kuat. Namun modal sosial itu tidak boleh dianggap permanen. Polarisasi digital dan provokasi identitas dapat merusaknya sewaktu-waktu. Karena itu, Iduladha perlu dijadikan ruang mempererat persaudaraan lintas iman melalui kerja sosial bersama, aksi kemanusiaan, dan kepedulian ekologis kolektif. Spirit kurban pada akhirnya bukan hanya menyembuhkan individu, tetapi juga menyembuhkan bangsa.
Meneguhkan Indonesia sebagai Rumah Bersama
Iduladha 1447 H seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak pengorbanan moral daripada sekadar retorika religius. Yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah elite yang rela berkorban demi rakyat, pemimpin yang tidak rakus kekuasaan, masyarakat yang mau berbagi, serta komunitas agama yang merawat bumi dan kemanusiaan. Kurban sejati adalah keberanian mengurangi ego demi masa depan bersama.
Dalam konteks kebangsaan, semangat ini penting untuk merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang majemuk. Persaudaraan antarumat beragama bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan historis dan moral. Sulawesi Utara telah memberi contoh bahwa harmoni dapat dirawat melalui budaya saling menghormati dan solidaritas sosial.
Karena itu, Iduladha tidak boleh direduksi menjadi ritual tahunan yang selesai setelah daging dibagikan. Ia harus menjadi gerakan moral untuk membangun masyarakat yang lebih adil, ekologis, dan manusiawi. Di tengah dunia yang makin gaduh oleh perang, kerakusan, dan kebencian, pesan Ibrahim tetap relevan: manusia hanya akan menemukan Tuhan ketika berani melepaskan egoismenya. Dan bangsa hanya akan bertahan apabila warganya masih memiliki kemampuan untuk berkorban demi sesama dan bumi yang mereka tinggali. Mungkin, di situlah makna terdalam Iduladha: bukan tentang apa yang disembelih, tetapi tentang apa yang berhasil dimurnikan dalam diri manusia. (*)
Daftar Pustaka
1. Fromm, E. (1976). To Have or To Be? New York: Harper & Row.
2. Frankl, V. (1946). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.
3. Kierkegaard, S. (1843). Fear and Trembling. Copenhagen: C.A. Reitzel.
4. Nasr, S. H. (1968). Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. London: Allen & Unwin.
5. Paus Fransiskus. (2015). Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana.
6. Rahman, F. (1982). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press.
7. Sen, A. (1999). Development as Freedom. New York: Alfred A. Knopf.
8. Al-Qur’an al-Karim, Surah Al-Hajj ayat 37
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Dr-Drs-H-Ulyas-Taha-MPd-Kepala-Kanwil-Kemenag-Sulut.jpg)