Opini
Refleksi Iduladha 1447 H: Kurban yang Menyembuhkan Bumi
Dalam gema takbir yang mengguncang langit Nusantara, manusia modern kembali dihadapkan pada pertanyaan paling purba:
Dalam tradisi Islam, hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan Tuhan (hablum minallah). Karena itu, kesalehan ritual tanpa kepedulian sosial hanya melahirkan religiositas kosong.
Di Sulawesi Utara, nilai ini menemukan resonansinya dalam budaya mapalus—tradisi gotong royong masyarakat Minahasa yang menekankan solidaritas komunal. Spirit kurban sejatinya sejalan dengan nilai mapalus: saling menopang, berbagi beban, dan menjaga harmoni sosial. Di tengah meningkatnya individualisme perkotaan, nilai-nilai seperti ini perlu dihidupkan kembali.
Lebih dari itu, Iduladha juga menjadi momentum memperkuat persaudaraan lintas agama. Kerukunan di Sulawesi Utara selama ini tidak lahir secara otomatis, tetapi dibangun melalui budaya saling menghormati dan keterlibatan sosial antarumat beragama. Ketika umat Islam merayakan Iduladha, dukungan dan penghormatan dari umat agama lain menjadi tanda bahwa kemanusiaan lebih besar daripada sekat identitas.
Kementerian Agama Republik Indonesia selama beberapa tahun terakhir terus menegaskan pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi kehidupan kebangsaan. Dalam konteks itu, Iduladha harus menjadi energi moral untuk memperkuat toleransi, dialog, dan solidaritas kebangsaan.
Krisis Ekologi dan Teologi Kurban
Salah satu ironi terbesar zaman ini adalah manusia merayakan agama sambil menghancurkan bumi ciptaan Tuhan. Padahal, dalam Islam, manusia adalah khalifah di bumi—penjaga, bukan perusak.
Seyyed Hossein Nasr dalam Man and Nature (1968) mengkritik keras peradaban modern yang memisahkan spiritualitas dari alam. Akibatnya, alam diperlakukan semata sebagai objek eksploitasi ekonomi. Padahal, dalam pandangan kosmologis Islam, alam adalah ayat-ayat Tuhan yang hidup.
Tema “Merawat Alam dan Kemanusiaan” menjadi sangat relevan bagi Indonesia yang sedang menghadapi krisis ekologis serius: deforestasi, pencemaran sungai, banjir, krisis sampah plastik, dan kerusakan laut. Sulawesi Utara pun tidak luput dari ancaman ini. Kerusakan kawasan pesisir, sampah laut di wilayah Teluk Manado, serta tekanan terhadap ekosistem Bunaken menjadi alarm ekologis yang nyata.
Taman Nasional Bunaken bukan hanya destinasi wisata, tetapi warisan ekologis dunia. Ketika laut tercemar oleh plastik dan eksploitasi, sesungguhnya manusia sedang mengkhianati amanat spiritualnya sebagai penjaga bumi.
Dalam perspektif ekoteologi, kurban harus dimaknai sebagai pengendalian hasrat konsumsi yang merusak alam. Banyak kerusakan ekologis bersumber dari gaya hidup manusia yang rakus dan tidak berkelanjutan. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ (2015) menyebut bumi sebagai “rumah bersama” yang sedang terluka akibat kerakusan manusia. Meskipun berasal dari tradisi Katolik, pesan moral ini bersifat universal dan sejalan dengan etika Islam tentang penjagaan alam.
Iduladha mengajarkan asketisme ekologis: hidup secukupnya, tidak berlebihan, dan menghargai keseimbangan ciptaan. Dalam konteks praktis, semangat ini bisa diwujudkan melalui pengurangan sampah plastik saat pembagian daging kurban, penggunaan kemasan ramah lingkungan, penghijauan lingkungan rumah ibadah, serta pendidikan ekologis berbasis komunitas keagamaan. Agama tidak boleh lagi hanya sibuk mengurus surga setelah mati, tetapi juga harus menyelamatkan bumi tempat manusia hidup hari ini.
Psikologi Kurban dan Luka Sosial Bangsa
Bangsa Indonesia sedang mengalami kelelahan psikologis kolektif. Media sosial dipenuhi kemarahan, hoaks, ujaran kebencian, dan kecemasan sosial. Banyak orang kehilangan empati karena terlalu lama hidup dalam kompetisi dan tekanan ekonomi.
Dalam psikologi modern, manusia yang kehilangan makna hidup cenderung jatuh pada nihilisme dan agresivitas. Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning (1946) menjelaskan bahwa manusia hanya bisa bertahan ketika menemukan makna yang melampaui dirinya sendiri.
Di sinilah Iduladha memiliki relevansi psikologis. Kurban mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari memberi, bukan hanya menerima. Ketika seseorang berbagi kepada orang lain, ia tidak hanya menolong sesama, tetapi juga menyembuhkan dirinya sendiri dari keterasingan batin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Dr-Drs-H-Ulyas-Taha-MPd-Kepala-Kanwil-Kemenag-Sulut.jpg)