Opini
Harkitnas di Tengah Republik yang Lelah
Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling keras meneriakkan nasionalisme, melainkan bangsa yang paling serius merawat martabat manusianya.
Tayang:
Editor:
maximus conterius
Pada akhirnya, Harkitnas 2026 menghadapkan Indonesia pada pilihan sejarah: menjadi republik yang dewasa dalam demokrasi, atau perlahan kembali tergelincir ke dalam budaya kuasa yang anti kritik. Kebangkitan nasional tidak akan lahir dari propaganda optimisme, melainkan dari keberanian mengakui masalah dan memperbaikinya dengan jujur. Dan mungkin, di tengah republik yang lelah ini, keberanian untuk tetap kritis adalah bentuk cinta tanah air yang paling tulus. (*)
Tags
Hari Kebangkitan Nasional
Bung Karno
otoritarianisme
Nilai Tukar Rupiah
Program Makan Bergizi Gratis
Budi Utomo
Herkulaus Mety
Berita Terkait: #Opini
| Refleksi Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2026: Menjaga Wajah dan Suara Manusia |
|
|---|
| Pertemuan Elite Politik Sulut: Rekonsiliasi atau Kalkulasi Kuasa? |
|
|---|
| Birokrasi Zombie: Mesin Administrasi yang Sibuk tetapi Tidak Produktif |
|
|---|
| Status Tersangka dan Batas Konstitusional Pemberhentian Kepala Daerah |
|
|---|
| Orang Tua: Pendidik Pertama, Utama dan Terlama |
|
|---|
KOMENTAR
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Hery-Mety-Penulis.jpg)