Opini
Otokritik atas Turunnya Posisi Manado dalam Indeks Kota Toleran
Ketiadaan konflik bukanlah indikator utama toleransi. Justru, ia bisa menjadi tanda absennya ruang kritik, dialog, dan negosiasi yang sehat.
Dalam dunia pendidikan, misalnya, toleransi sering direduksi menjadi slogan normatif tanpa pendekatan pedagogis yang dialogis.
Pendidikan agama masih dominan dalam kerangka truth claim yang eksklusif, bukan shared ethics yang inklusif.
Akibatnya, generasi baru tidak mewarisi toleransi sebagai kesadaran, melainkan hanya sebagai tradisi, yang sewaktu-waktu bisa rapuh ketika berhadapan dengan ideologi yang lebih sistematis.
Hilangnya nama Kota Manado dari 10 besar IKT seharusnya memaksa kita keluar dari zona nyaman narasi kebanggaan.
Kita perlu berani melakukan otokritik sosial-religius: membongkar asumsi-asumsi lama, menguji ulang praktik keberagamaan, dan mengakui bahwa toleransi bukan identitas yang selesai, melainkan proses yang terus dinegosiasikan.
Jika tidak, kita akan terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai performative tolerance, toleransi yang hanya hidup dalam seremoni, pidato, dan simbol, tetapi tidak hadir dalam relasi sosial yang nyata (Mikko Lehtonen, 2018).
Dari Basis ke Struktur
Rekonstruksi toleransi di Manado harus dimulai dari dua arah sekaligus. Pertama, dari basis sosial: memperkuat kembali ruang-ruang perjumpaan lintas iman yang otentik, bukan sekadar formalitas.
Toleransi harus dialami, bukan hanya diklaim. Kedua, dari struktur institusional: menghadirkan kebijakan pendidikan, keagamaan, dan sosial yang secara sadar membangun kesadaran pluralisme.
Ini termasuk reformulasi pendidikan agama menuju pendekatan yang lebih reflektif, kontekstual, dan humanistik.
Kita perlu menolak kepuasan semu sebagai 'kota toleran'. Karena begitu toleransi dianggap sebagai sesuatu yang sudah selesai, di situlah ia mulai runtuh.
Manado hari ini sedang diuji, bukan oleh konflik besar, tetapi oleh kelalaian kecil yang terus berulang. Oleh diamnya kritik. Oleh absennya refleksi.
Jika kita tidak segera menyadarinya, maka kehilangan posisi dalam indeks hanyalah gejala awal dari kehilangan sesuatu yang jauh lebih mendasar yakni kemampuan kita untuk hidup bersama dalam perbedaan secara bermakna.
Wallahu’ a’lam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/dr-arhanuddin-salim-mpdi-dosen-iain-manado.jpg)