Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Menata Ulang Definisi Kemenangan: Refleksi Idul Fitri

Satu pertanyaan mendasar sering luput dari perenungan: apa sebenarnya makna kemenangan itu? Apakah sekadar berhasil menahan lapar dan dahaga?

Editor: Rizali Posumah
Dok. Pribadi/Istimewa/Dokumentasi Supriadi
SOSOK - Supriadi, S.Ag., M.Pd.I Ia adalah Pengawas PAI Kemenag Kota Manado, Ketua DPW AGPAII Prov. Sulut, Sekretaris Umum Yayasan Karya Islamiyah Manado, Wakil Sekretaris PW PERGUNU Prov. Sulut. 

Ringkasan Berita:
  • Satu pertanyaan mendasar sering luput dari perenungan: apa sebenarnya makna kemenangan itu? 
  • Apakah kemenangan sekadar berhasil menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh? 
  • Ataukah dia lebih dalam dari sekadar ritual yang dituntaskan?

 

Oleh: Supriadi, S.Ag., M.Pd.I

(Pengawas PAI Kemenag Kota Manado, Ketua DPW AGPAII Prov. Sulut, Sekretaris Umum Yayasan Karya Islamiyah Manado, Wakil Sekretaris PW PERGUNU Prov. Sulut)

Ramadhan boleh saja pergi dengan meninggalkan sejuta kenangan bagi orang-orang yang menikmati setiap detiknya.

Ada pula yang merasa gembira karena terkekang dengan Ramadhan. Namun semuanya bersama dalam semarak Idul Fitri. Meskipun ada yang merayakan kemenangan untuk dirinya sendiri maupun kemenangan untuk orang lain.

Gema takbir pun berkumandang mengiringi datangnya Hari Raya Idul Fitri. Ucapan “Minal ‘aidin wal faizin” berseliweran di berbagai ruang, baik nyata maupun digital.

Satu pertanyaan mendasar sering luput dari perenungan: apa sebenarnya makna kemenangan itu? Apakah kemenangan sekadar berhasil menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh? Ataukah dia lebih dalam dari sekadar ritual yang dituntaskan?

Sejatinya Idul Fitri adalah sebuah momentum untuk melakukan evaluasi dan bukan sekadar perayaan -apalagi hura-hura-. Kemenangan dalam perspektif spiritual bukanlah diukur dari berakhirnya Ramadhan, melainkan dari apa yang tersisa setelah berlalunya Ramadhan.

Jika seseorang kembali pada kebiasaan lama -lalai dalam ibadah, abai terhadap sesama, dan kehilangan sensitivitas sosial- maka kemenangan itu patut dipertanyakan.

Dalam kerangka ini, kemenangan perlu ditata ulang, dan dimaknai sebagaimana mestinya.

Kemenangan di Idul Fitri bukanlah simbol keberhasilan formal menjalankan puasa, melainkan transformasi batin yang berkelanjutan.

Kemenangan adalah ketika nilai-nilai Ramadhan -kejujuran, kesabaran, empati, dan kedisiplinan- tidak ikut berlalu bersama hilangnya hilal Syawal.

Justru, nilai-nilai itulah yang menjadi bekal utama dalam menapaki sebelas bulan berikutnya. Ada kontinuitas yang harusnya diaplikasikan pasca Ramadhan.

Lebih jauh lagi, kemenangan juga tidak bersifat individual semata.

Dia memiliki dimensi sosial yang kuat. Ramadhan mengajarkan solidaritas melalui zakat, infak, dan sedekah.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 

Otak Dangkal di Lautan Digital

 

Paskah dan Jeruji Besi

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved