Kamis, 7 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Jurnalis

Catatan Seorang Jurnalis: Salib dan Joker

Pernah ada seorang manusia yang lebih miskin dari Arthur Fleck. Ia disebut sebagai pencipta alam semesta. Sang Alfa dan Omega.

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Gryfid Talumedun
Tribun Manado/HO
OPINI - Catatan Seorang Jurnalis: Salib dan Joker 

SEJUMLAH kritikus menyebut Joker Folie à Deux sebagai film yang gagal.

Saya kira demikian adanya. 

Sepakat.

Film ini penuh dengan dialektika yang tidak pernah benar-benar sampai pada klimaks. 

Ia seperti tubuh yang terus bergoyang tanpa arah, bergerak, tetapi tanpa nyawa.

Namun bagi saya, “dosa” terbesar film ini bukanlah kegagalan artistiknya. 

Yang lebih mengganggu adalah cara film ini mengglorifikasi Joker, si pembuat kekacauan sebagai figur yang nyaris heroik.

Saat layar menyorot Joker, suasana menjadi bergairah. 

Setiap gerakannya dipenuhi sensasi.

Orang-orang di dalam layar berteriak histeris, seolah hendak menyeret penonton ikut masuk ke dalam kegelapan yang memabukkan itu.

Sebaliknya, ketika Arthur Fleck muncul, dunia mendadak redup. 

Layar seperti tertutup mendung.

Hidup terasa seperti rawa payah ; lengket, sunyi, dan tanpa harapan.

Arthur tidak memiliki apa pun yang membuat dunia ingin memandangnya.

Ia miskin, rapuh, tak berdaya, tak waras, sepi, bahkan menjijikkan bagi banyak orang.

Jika hidup diibaratkan sebuah jalan, maka Arthur adalah kecelakaan.

Bahkan ibunya menipunya. 

Perempuan yang ia cintai pun ternyata hanya ilusi. 

Orang lain memperlakukannya seperti angin, hadir tanpa pernah dianggap ada.

Di akhir cerita, Joker menghilang. 

Yang tersisa hanya Arthur, dan dunia seakan menghujat keberadaannya.

Ia tidak pantas berada di bawah sorotan.

Dunia lebih menyukai Joker yang memabukkan daripada Arthur yang menyedihkan.

Pertanyaan kemudian mengapung, mengapa hanya Arthur yang tersisa di akhir cerita? 

Dan lebih jauh lagi, mengapa manusia seperti Arthur ada dalam dunia kita?

Sejarah memberi jawaban yang mengejutkan.

Pernah ada seorang manusia yang lebih miskin dari Arthur Fleck.

Ia disebut sebagai pencipta alam semesta.

Sang Alfa dan Omega.

Namun memilih berinkarnasi menjadi manusia yang terbatas.

Ia kaya, tetapi dilahirkan dalam keluarga miskin yang tak terpandang. 

Bahkan kelahirannya terjadi di sebuah kandang binatang.

Saya kira, semiskin-miskinnya manusia, jarang ada yang lahir di tempat seperti itu.

Hidup-Nya sederhana. 

Ia bahkan pernah berkata “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Banyak orang menganggap-Nya gila. 

Ada pula yang menuduh-Nya kerasukan setan.

Namun yang paling tragis adalah cara Ia mati: disalibkan. 

Pada masa itu, salib adalah hukuman paling hina, diperuntukkan bagi para penjahat.

Di atas kayu salib, Ia disetarakan dengan para kriminal terkutuk.

Ia adalah Yesus.

Barangkali Ia adalah manusia paling miskin, paling menderita, dan paling ditolak dalam sejarah.

Tetapi dari tubuh yang diremukkan itu, manusia justru menerima kesembuhan.

Jika Yesus datang sebagai pahlawan yang menaklukkan Romawi, seperti impian banyak orang Yahudi pada masa itu, mungkin Ia akan dielu-elukan. 

Namun manusia tetap akan mati seperti Adam.

Sebaliknya, Ia turun dari surga dan memilih menderita sebagai manusia yang rapuh, agar manusia ditebus dari dosa.

Ia melakukan semuanya karena cinta.

Cinta yang turun dari atas ke bawah.

Cinta yang datang dari tempat mulia untuk menjangkau yang hina.

Salib adalah keagungan Allah. 

Kemuliaan tertinggi Allah justru terjadi di tempat di mana kemuliaan itu tidak tampak.

Sebuah teologi salib.

Kadang saya membayangkan satu adegan lain di Golgota. 

Di sisi kiri Yesus berdiri para pencari kemuliaan, pemuja pesta, dan pengagum kekacauan, mungkin seseorang seperti Joker.

Dalam kesakitan ia masih bisa tertawa, sambil menghujat Dia yang tersalib di tengah.

Namun di sisi kanan ada manusia yang kalah: lemah, hina, dan tak berdaya. Ia mungkin lebih mirip Arthur Fleck, meski mungkin bukan Arthur.

Dalam kebangkrutan rohaninya, ia hanya mampu berkata:

“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”. (Arthur Rompis)

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved