Jumat, 15 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Dimensi Holistik Puasa: Ketaatan, Solidaritas, dan Amanah

Takwa dalam hal ini bukan hanya dimaknai sebagai kesalehan ritual, tetapi juga kesadaran moral dan sosial dalam menjalani kehidupan.

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Manado
OPINI - Rivai Bolotio. Penulis adalah Guru Besar FTIK IAIN Manado, Sulawesi Utara 

 

Ringkasan Berita:Tentang Penulis
- Penulis lahir di Manado, 18 April 1964
- Pekerjaan: Dosen PNS
- Ketua Senat IAIN Manado, 2023-2027
- Organisasi: Ketua PW Muhammadiyah Sulawesi Utara - Sekarang
Ketua Alumni PGAN Manado
 
Riwayat Pendidikan:
- S1 IAIN Alauddin Makassar
- S2 Universitas Negeri Manado
- S3 Universitas Negeri Jakarta

 

Oleh: Prof. Dr. Rivai Bolotio, M.Pd.
Guru Besar FTIK IAIN Manado
 
BULAN Ramadan selalu menghadirkan suasana spiritual yang khas bagi umat Islam. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. 

Lebih dari itu, puasa adalah perjalanan spiritual yang mengingatkan manusia tentang siapa dirinya, bagaimana ia harus hidup bersama sesama, dan bagaimana ia memikul tanggung jawab sebagai makhluk Tuhan.
 
Al-Qur’an menyebutkan bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa (QS. Al-Baqarah: 183).

Takwa dalam hal ini bukan hanya dimaknai sebagai kesalehan ritual, tetapi juga kesadaran moral dan sosial dalam menjalani kehidupan.

Dalam perspektif yang lebih luas, puasa memiliki dimensi yang bersifat holistik.

Ia membentuk manusia dalam tiga sisi sekaligus: sebagai hamba Tuhan, sebagai makhluk sosial, dan sebagai pengemban amanah dalam kehidupan.

Manusia sebagai Hamba

Puasa pertama-tama mengajarkan manusia tentang hakikat dirinya sebagai hamba. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa memiliki kebebasan penuh atas dirinya.

Namun ketika berpuasa, seseorang secara sadar menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya halal baginya, seperti makan dan minum.
 
Di sinilah letak makna spiritual puasa. Seseorang tidak makan bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena ia memilih taat pada perintah Tuhan.

Ia menahan diri bukan karena dipaksa orang lain, melainkan karena kesadaran bahwa ada nilai spiritual yang lebih tinggi daripada sekadar memenuhi keinginan diri.
 
Puasa melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, mengelola keinginan, dan menumbuhkan kesabaran. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh godaan, latihan spiritual seperti ini menjadi sangat penting.

Ia mengingatkan manusia bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu terletak pada pemuasan keinginan, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri.
 
Melalui puasa, manusia belajar tentang kerendahan hati. Ia menyadari bahwa nikmat yang selama ini dianggap biasa; makanan, minuman, Kesehatan, sebenarnya adalah karunia Tuhan yang tidak selalu tersedia setiap saat.

Solidaritas Sosial

Selain berdimensi spiritual, puasa juga memiliki makna sosial yang sangat kuat. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia lebih mudah memahami kondisi orang-orang yang hidup dalam kekurangan.

Rasa lapar yang dialami selama berpuasa menjadi pengalaman empatik yang menghubungkan manusia dengan realitas sosial di sekitarnya.

Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap kebutuhan hidup. Karena itu, Ramadan sering menjadi bulan berbagi.

Tradisi berbuka puasa bersama, berbagi makanan kepada tetangga, hingga kewajiban zakat fitrah merupakan bentuk konkret dari solidaritas sosial yang diajarkan oleh puasa.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved