Breaking News
Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Emas Rakyat, Masa Depan yang Dipertaruhkan

Tanpa visi ekologis yang kuat, tambang rakyat berpotensi menjadi utang lingkungan yang harus dibayar mahal oleh generasi mendatang.

Dokumen Pribadi
Hery Mety, alumnus STFSP dan IAIN Manado 

Risiko Kerusakan Lingkungan

Dari perspektif ekologi, pertambangan merupakan salah satu aktivitas yang paling berisiko terhadap lingkungan. Kerusakan hutan, pencemaran air, degradasi tanah, dan hilangnya keanekaragaman hayati adalah beberapa dampak yang sering terjadi di wilayah tambang.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut pertambangan emas skala kecil sebagai salah satu sumber utama pencemaran merkuri di dunia (UNEP, 2019).

Jika tidak dikelola dengan standar lingkungan yang ketat, aktivitas tambang rakyat dapat meninggalkan jejak ekologis yang sulit dipulihkan. Tanah yang tercemar merkuri membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk kembali sehat. Dalam konteks perubahan iklim global, kerusakan ekosistem lokal juga memiliki dampak yang lebih luas terhadap ketahanan lingkungan regional.

Menimbang Masa Depan Generasi

Pertanyaan mendasar dari kebijakan tambang rakyat bukanlah tentang hari ini, melainkan tentang masa depan. Apakah generasi mendatang akan mewarisi tanah yang subur, sungai yang bersih, dan laut yang sehat? Atau justru lanskap tambang yang rusak dan ekosistem yang rapuh? Pilihan kebijakan hari ini akan menentukan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Tambang rakyat dapat menjadi jalan kesejahteraan jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan, teknologi ramah lingkungan, dan pengawasan yang ketat. Namun tanpa visi ekologis yang kuat, ia berpotensi menjadi utang lingkungan yang harus dibayar mahal oleh generasi mendatang.

Penutup

Tambang rakyat di Sulawesi Utara adalah ujian penting bagi arah pembangunan daerah. Ia menguji apakah pembangunan hanya dimaknai sebagai pertumbuhan ekonomi, atau sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan masa depan.

Pada akhirnya, kepemimpinan politik tidak hanya diukur dari keberanian membuka akses ekonomi bagi rakyat, tetapi juga dari kebijaksanaan menjaga bumi bagi generasi yang belum lahir. Emas mungkin dapat ditambang dan habis dalam beberapa dekade. Namun alam yang rusak sering membutuhkan waktu ratusan tahun untuk pulih; dan generasi masa depan tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih warisan itu. (*)

Sumber: Tribun Manado
Halaman 4/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved