Breaking News
Minggu, 7 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Seorang Jurnalis

Catatan Seorang Jurnalis: Pedang Tang Sin

Cap Go Meh ternyata sudah digelar sejak kelenteng itu pertama berdiri, yang diperkirakan sekitar tahun 1670.

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Chintya Rantung
Tribun Manado/Arthur_Rompis
CAP GO MEH - Aksi Tang Sin dalam Cap Go Meh di Manado beberapa waktu lalu. Cap Go Meh ternyata sudah digelar sejak kelenteng itu pertama berdiri. 

Dirinya harus berperilaku baik, jadi teladan, serta rajin membina diri. Saat saya wawancarai sebelum beraksi, ia mengaku selalu ada kekhawatiran, "Tapi saya punya keyakinan bahwa Sin Beng atau Roh Suci akan menyertai," katanya.

​Aksi Tang Sin yang terlihat seperti melukai diri bukanlah pameran kekuatan, melainkan sebuah gerakan teologis.

Tang Sin memukul bahu dengan pedang merupakan simbol dari Tuhan yang memikul kelemahan dan dosa manusia.

Gerakan menusuk lidah adalah peringatan bagi umat untuk menjaga mulut, karena dosa kerap muncul dari perkataan.

Adapun gerakan mengayunkan pedang ke kiri dan kanan adalah simbol keselarasan antara Yin dan Yang.

​Sejak digelar pertama kali, Cap Go Meh telah jadi bagian dari kehidupan warga Manado hingga mereka punya istilah tersendiri yakni Ence Pia. 

Dari zaman Belanda, Permesta, bahkan Orde Baru, Ence Pia di Manado terus eksis. 

Di zaman Orde Baru, saat kebudayaan Cina ditekan dengan keras, Ence Pia tetap digelar di Manado.

Mungkin Manado satu-satunya kota di Indonesia yang menggelar Cap Go Meh secara terbuka di era tersebut.

Saya kira itu karena kekuatan harmoni dari warga Manado yang plural sanggup mendorong Cap Go Meh untuk tetap berada di panggung, dan kekuatan represif saat itu tak sanggup melawannya.

​Cap Go Meh selalu sama setiap tahun, tapi bagi saya, sudut liputannya tak pernah habis. Sangat kaya.

Awal 2026 ini dibuka dengan konflik di belahan dunia sana. Saya terharu menyaksikan musik bambu memainkan lagu Sholawat saat jelang buka puasa di acara umat Tridharma.

Umat Muslim yang mendengarnya bernyanyi, lantas bertepuk tangan di penghujung lagu.

Musik bambu lainnya memainkan lagu Hymn of the Battle Republic, dan yang muncul di hati saya adalah semangat untuk berperang dengan hawa nafsu dan cinta diri, dua sikap barbar yang selalu menganggap "yang lain" sebagai musuh. Keselarasan dan harmoni.

Untuk itulah Tang Sin mengayunkan pedangnya ke kiri dan kanan. (Arthur Rompis)

 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved