Catatan Seorang Jurnalis
Pangemanann Pramoedya
Pangemanann ini tokoh utama dalam novel Rumah Kaca karya maestro Pramoedya Ananta Toer - seri penutup dari tetralogi Pulau Buru yang legendaris.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Semakin ia naik, semakin ia jatuh.
Semakin ia berhasil dalam karier, semakin ia merasa jatuh.
Hindia Belanda jaya karena strateginya, tapi si empunya buah pikir perlahan - lahan hancur.
Rasa bersalah memeluknya. Keluarga bahagianya hancur dan ia jadi seperti orang gila.
Minke hancur karena tak mau mendengarkan suara Tuhan dalam hati nuraninya.
Pangemanann seorang Kristen Calvinisme yang taat.
Ia rajin berdoa, baca Alkitab dan pergi ke gereja.
Kebiasaan Pangemanan yang sering tampak dalam novel Rumah Kaca adalah mereka sekeluarga mengawali makan bersama dengan berdoa.
Tapi Pangemanann membuang anugerah Tuhan yang begitu besar dan berpaling pada dunia ini dan kemewahannya.
Pangkat dan jabatan sejatinya adalah mahkota duri.
Ia memilih mahkota dan membuang durinya.
Pada akhirnya mahkota itu membawanya ke neraka.
Duri itu ternyata surga.
Sekarang rumah kaca itu masih ada. Itulah algoritma dan jejak digital.
Pekerjaan seperti yang dijalani Pangemanann ala Pramoedya pun masih eksis.
Mereka adalah para buzzer, ahli framing untuk membunuh karakter.
Jacques Pangemanann mustinya tak perlu merasa terlalu berdosa.
"Pangemanann" modern lebih gelap.
Mereka menjual jiwanya tanpa ada keberatan pada hati nurani, yang tanpa kemampuan apa-apa dan maju karena menjilat. (Art)
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/PRAM-Pramoedya-Ananta-Toer-78799544.jpg)