Catatan Seorang Jurnalis
Pangemanann Pramoedya
Pangemanann ini tokoh utama dalam novel Rumah Kaca karya maestro Pramoedya Ananta Toer - seri penutup dari tetralogi Pulau Buru yang legendaris.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Namanya agak aneh. Pangemanann. Dua N.
- Biasanya marga Pangemanan dari Minahasa hanya menggunakan satu N di akhirannya.
- Pangemanann ini tokoh utama dalam novel Rumah Kaca karya maestro Pramoedya Ananta Toer - seri penutup dari tetralogi Pulau Buru yang legendaris.
Namanya agak aneh. Pangemanann. Dua N.
Biasanya marga Pangemanan dari Minahasa hanya menggunakan satu N di akhirannya.
Pangemanann ini tokoh utama dalam novel Rumah Kaca karya maestro Pramoedya Ananta Toer - seri penutup dari tetralogi Pulau Buru yang legendaris.
Sewaktu pertama membaca Rumah Kaca belasan tahun lalu, saya langsung terpikat dengan sosoknya.
Bukan karena ia Manado. Tapi karena ia rumit.
Saya benci sekaligus sayang padanya.
Pangemanann mirip tokoh Snape dalam buku Harry Potter karya JK Rowling - menyebalkan tapi pada akhirnya menimbulkan rasa iba dan hormat setelah pengorbanan tersembunyinya terungkap.
Pramoedya menempatkan Pangemanann bukan dalam barisan tokoh super hero, tapi menaruhnya dalam realitas yang abu - abu , dimana manusia terlalu rumit untuk dinilai secara hitam dan putih.
Jika Minke terlihat heroik romantik dengan berjuang untuk bangsa setelah kehilangan sang istri Annelies, Pangemanann lebih tragis problematis - seseorang yang tugasnya melenyapkan Minke, tapi hati nuraninya mengagumi
Minke, bahkan menganggapnya sebagai panutan.
Nama lengkapnya Jacques Pangemanann. Asli Manado. Tapi dipungut sebagai anak oleh misionaris dari Perancis. Disekolahkan di Sorbonne Prancis.
Mengabdi di kepolisian dengan karier gemilang. Salah satu prestasinya yang mencolok adalah meredakan gerombolan si Pitung.
Pada akhirnya prestasi dan nasib membawanya ke puncak, jabatan Komisaris polisi.
Satu - satunya orang Pribumi yang menduduki jabatan itu.
Jasa Pangemanann sungguh besar bagi Belanda. Ia merupakan pencipta sejumlah metode baru untuk mencegah revolusi lahir dari ibu Pertiwi yang sudah hamil tua.
Pangemanan memperkenalkan metode intelejen dan birokrasi.
Di mana Belanda tak perlu menggerakkan tentara, cukup kertas, pena dan agen rahasia.
Pergerakan ia bunuh bukan dengan peluru.
Tapi manipulasi hukum dan pembunuhan karakter.
Pangemanan juga merancang skema "rumah kaca" di mana warga diawasi lewat skema pengarsipan dan warga merasa diawasi hingga memicu sifat pasif.
Belanda sebelum Pangemanann kerap bertindak semena-mena dengan melanggar hukum.
Tapi metode Pangemanann berlangsung di dalam koridor hukum lewat pasal pasal karet.
Ini membuat penindasan terasa legal.
Yang paling keji adalah para pahlawan tidak dibunuh dan mati sebagai pahlawan.
Mereka tetap dibiarkan hidup, tapi dilupakan.
Inilah yang dialami Minke, sepulang dari pembuangan, ia tak lagi dikenal baik keluarga maupun teman. Kekayaannya disita.
Organisasi SI yang ia dirikan mengenalnya hanya sebagai History atau His Story.
Pada akhirnya Minke mati dalam sepi.
Bahagiakan Pangemanann? Ternyata tidak.
Semakin ia naik, semakin ia jatuh.
Semakin ia berhasil dalam karier, semakin ia merasa jatuh.
Hindia Belanda jaya karena strateginya, tapi si empunya buah pikir perlahan - lahan hancur.
Rasa bersalah memeluknya. Keluarga bahagianya hancur dan ia jadi seperti orang gila.
Minke hancur karena tak mau mendengarkan suara Tuhan dalam hati nuraninya.
Pangemanann seorang Kristen Calvinisme yang taat.
Ia rajin berdoa, baca Alkitab dan pergi ke gereja.
Kebiasaan Pangemanan yang sering tampak dalam novel Rumah Kaca adalah mereka sekeluarga mengawali makan bersama dengan berdoa.
Tapi Pangemanann membuang anugerah Tuhan yang begitu besar dan berpaling pada dunia ini dan kemewahannya.
Pangkat dan jabatan sejatinya adalah mahkota duri.
Ia memilih mahkota dan membuang durinya.
Pada akhirnya mahkota itu membawanya ke neraka.
Duri itu ternyata surga.
Sekarang rumah kaca itu masih ada. Itulah algoritma dan jejak digital.
Pekerjaan seperti yang dijalani Pangemanann ala Pramoedya pun masih eksis.
Mereka adalah para buzzer, ahli framing untuk membunuh karakter.
Jacques Pangemanann mustinya tak perlu merasa terlalu berdosa.
"Pangemanann" modern lebih gelap.
Mereka menjual jiwanya tanpa ada keberatan pada hati nurani, yang tanpa kemampuan apa-apa dan maju karena menjilat. (Art)
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/PRAM-Pramoedya-Ananta-Toer-78799544.jpg)