Opini
Mengukur Kekuatan PSI dan Jokowi Effect di Sulawesi Utara
Mulai dari warung kopi di Manado hingga pinggiran kebun cengkeh di Minahasa, Jokowi masih disebut dengan nada hormat.
Sulut adalah wilayah yang menghargai rekam jejak, keterlibatan sosial, dan kehadiran berulang, bukan musiman.
PSI belum punya banyak tokoh yang tumbuh lama di situ. Tanpa itu, Jokowi hanya menjadi gambar di baliho, bukan suara di TPS.
Politik sering memberi ruang bagi yang sabar. Pasca-Jokowi, Indonesia memasuki fase pergeseran kesetiaan elite.
Banyak tokoh daerah mulai mencari rumah politik baru. Di titik inilah PSI memiliki peluang, bukan sebagai partai dominan, tetapi sebagai partai penentu arah.
Di Sulut, PSI berpotensi menjadi pengunci koalisi, kendaraan alternatif, atau pintu masuk Jokowi Effect ke politik lokal.
Bukan pemain utama, tetapi pemain strategis.
Jika PSI Ingin Bertumbuh di Sulut
Ada empat syarat yang tidak bisa ditawar.
Pertama, berhenti menjual Jokowi sebagai wajah, mulai menjual Jokowi sebagai nilai seperti kerja, kesederhanaan, konsistensi.
Kedua, membangun figur lokal, bukan sekadar kader struktural.
Ketiga, membenahi struktur dari tingkat provinsi sampai tingkat lingkungan atau RT/RW
Keempat, hadir di isu Sulut, pesisir, ekonomi rakyat, tambang, pariwisata, dan buruh yang bukan hanya isu nasional dari Jakarta.
Tanpa itu, PSI akan tetap menjadi partai yang ramai di media sosial, tetapi sunyi di bilik suara.
PSI di Sulawesi Utara belum kuat secara angka, tapi ia punya waktu, simbol, dan peluang.
Jokowi Effect tidak bekerja dengan cara ajaib. Ia bekerja jika ditopang oleh kerja, struktur rapi, dan figur yang dipercaya. (*)