Opini
Mengukur Kekuatan PSI dan Jokowi Effect di Sulawesi Utara
Mulai dari warung kopi di Manado hingga pinggiran kebun cengkeh di Minahasa, Jokowi masih disebut dengan nada hormat.
Ringkasan Berita:1. Kecintaan masyarakat Sulut pada Jokowi tidak otomatis menjadi suara untuk PSI.2. PSI butuh tokoh daerah yang memiliki akar sosial-kultural kuat dan kehadiran nyata mereka di lapangan.3. PSI tidak bisa hanya 'menjual' wajah Jokowi, mereka harus membangun struktur mesin partai dan fokus pada isu-isu spesifik Sulawesi Utara untuk bisa menang.
Oleh: Baso Affandi
Direktur Baromoter Suara Indonesia (BSI)
KOPI memang tidak selalu pahit, tapi politik—sering kali—tidak pernah benar-benar manis.
Nama Jokowi masih bekerja kuat di kepala publik Sulawesi Utara. Jokowi dikenang sebagai presiden yang sederhana, pekerja, dan tidak berjarak.
Mulai dari warung kopi di Manado hingga pinggiran kebun cengkeh di Minahasa, Jokowi masih disebut dengan nada hormat.
Namun ketika nama itu dikaitkan dengan Partai Solidaritas Indonesia atau Partai Super Tbk (PSI), pertanyaannya menjadi lebih serius, seberapa jauh Jokowi Effect benar-benar bekerja secara elektoral di Bumi Nyiur Melambai?
Antara Simbol dan Suara
PSI hari ini adalah partai simbol. Simbol anak muda. Simbol antikorupsi. Kini, simbol Jokowiisme.
Tetapi politik lokal tidak hidup dari simbol semata. Politik Sulut hidup dari jejaring, figur dan kehadiran nyata.
Di Sulut, PSI belum sepenuhnya menyentuh tiga hal itu secara utuh. Hasil pemilu menunjukkan satu fakta penting: PSI dikenal, tetapi belum dipilih secara massal.
Ini bukan kegagalan ide, melainkan keterbatasan mesin. Jokowi mungkin dicintai, tetapi cinta politik pemilih Sulut tidak otomatis berpindah menjadi coblosan partai.
Di sinilah kita harus jujur membaca data bahwa Jokowi Effect di Sulut lebih bersifat moral dan simbolik, bukan mekanis elektoral.
Karakter Pemilih Sulut
Pemilih Sulut bukan pemilih yang reaktif. Mereka rasional, relatif nasionalis, dan terbiasa membedakan antara
memilih presiden, memilih partai, dan memilih figur lokal.
Mereka bisa mencintai Jokowi, tetapi tetap memilih PDIP, Golkar, NasDem, atau Demokrat untuk DPRD.
Ini disebut split-ticket voting dan Sulut sangat matang dalam praktik itu. Karena itu, berharap Jokowi Effect bekerja otomatis untuk PSI di Sulut adalah kesalahan analisis.
PSI dan Masalah Figur Lokal
Masalah utama PSI di Sulut bukan ideologi, melainkan ketiadaan figur lokal yang selesai secara sosial, politik, dan kultural.
Sulut adalah wilayah yang menghargai rekam jejak, keterlibatan sosial, dan kehadiran berulang, bukan musiman.
PSI belum punya banyak tokoh yang tumbuh lama di situ. Tanpa itu, Jokowi hanya menjadi gambar di baliho, bukan suara di TPS.
Politik sering memberi ruang bagi yang sabar. Pasca-Jokowi, Indonesia memasuki fase pergeseran kesetiaan elite.
Banyak tokoh daerah mulai mencari rumah politik baru. Di titik inilah PSI memiliki peluang, bukan sebagai partai dominan, tetapi sebagai partai penentu arah.
Di Sulut, PSI berpotensi menjadi pengunci koalisi, kendaraan alternatif, atau pintu masuk Jokowi Effect ke politik lokal.
Bukan pemain utama, tetapi pemain strategis.
Jika PSI Ingin Bertumbuh di Sulut
Ada empat syarat yang tidak bisa ditawar.
Pertama, berhenti menjual Jokowi sebagai wajah, mulai menjual Jokowi sebagai nilai seperti kerja, kesederhanaan, konsistensi.
Kedua, membangun figur lokal, bukan sekadar kader struktural.
Ketiga, membenahi struktur dari tingkat provinsi sampai tingkat lingkungan atau RT/RW
Keempat, hadir di isu Sulut, pesisir, ekonomi rakyat, tambang, pariwisata, dan buruh yang bukan hanya isu nasional dari Jakarta.
Tanpa itu, PSI akan tetap menjadi partai yang ramai di media sosial, tetapi sunyi di bilik suara.
PSI di Sulawesi Utara belum kuat secara angka, tapi ia punya waktu, simbol, dan peluang.
Jokowi Effect tidak bekerja dengan cara ajaib. Ia bekerja jika ditopang oleh kerja, struktur rapi, dan figur yang dipercaya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.