Catatan Wartawan
Siau: Harum Pala yang Magis hingga Ancaman Bencana
Dalam benak "penglalap" sejarah sepertiku, Siau adalah bagian terindah dari kejayaan masa silam orang-orang di utara Sulawesi.
Penulis: Rizali Posumah | Editor: Rizali Posumah
Air mulai terlihat di aliran sungai tersebut setelah turun hujan.
Hujan deras dan lama dapat mengalirkan air yang membawa serta lumpur beserta material berupa batu, kerikil dan pepohonan yang menuju pemukiman.
Seperti yang terjadi pada Senin (5/1/2026) subuh.
Banjir bandang menyapu kehidupan di 7 kelurahan yang tersebar di empat kecamatan.
Total bangunan yang rusak 206. Sementata total warga terdampak ada lebih dari seribu orang.
Lima Jalan penghubung antarwilayah terputus.
Korban luka, meninggal dan hilang, total 26 orang. 18 orang luka-luka, 17 orang meninggal dunia. 2 orang hilang dan masih dicari aparat gabungan termasuk TNI-Polri dan Basarnas.
Saat akan balik ke Manado, Jumat (9/1/2026) saya melihat Siau dengan kesedihan sekaligus kekaguman.
Dalam pikiranku berguman, "pantaslah, sejarah mencatatkan nama Laksamana Hengkengunaung begitu harumnya sebagai salah satu sekutu terkuat Kesultanan Gowa di Makassar yang gigih menentang dominasi Belanda di utara Sulawesi pada abad ke 17 masehi, ternyata prajurit-prajuritnya ditempa oleh kondisi alam yang tidak biasa."
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/SIAU-Makam-Raja-Siau-Pertama-Datu-Lokombanua-di-Paseng8989.jpg)