Opini
Natal, Ekoteologi dan Multikulturalisme Sulawesi Utara
Merawat bumi adalah ibadah dan ibadah ini adalah yang paling relevan dengan masa depan anak cucu kita.
Akhir-akhir ini kondisi ekologis Sulut makin rentan. Kita menghadapi banjir tahunan, abrasi pantai, sampah plastik yang menumpuk di pesisir, serta kerusakan sungai akibat sedimentasi.
Banyak warga Manado yang was-was, bahkan mengungsi tiap kali hujan besar.
Foto-foto banjir muncul setiap musim hujan, seolah menjadi ritus yang tak diinginkan. Bila krisis ini terus dibiarkan, biaya sosial dan ekonominya akan semakin besar.
Sulut memiliki potensi besar untuk menjadi wilayah percontohan green region di Indonesia Timur. Kita punya hutan-hutan adat Minahasa, kawasan pesisir yang cocok untuk restorasi mangrove, serta lembaga keagamaan yang aktif dalam aktivitas sosial.
Dengan ekoteologi, semua potensi ini bisa disatukan dalam program konkret. Kebijakan ekoteologi menekankan tiga pilar: iman, ilmu, dan amal. Bila diterapkan di Sulut, dampaknya akan sangat nyata.
Rumah ibadah menjadi pusat edukasi lingkungan. Gereja, masjid, dan rumah ibadah lain bisa menjadi role model “rumah ibadah hijau” dengan mengurangi plastik, menanam pohon, dan mengelola sampah.
Kemenag menyebut rumah ibadah sebagai titik strategis untuk konservasi komunitas. Bahkan madrasah, sekolah Kristen, dan sekolah Katolik bisa berkolaborasi membangun literasi ekologis. Buku ekoteologi memasukkan pendidikan ekologi berbasis iman sebagai prioritas kebijakan nasional.
KUA Hijau di kecamatan-kecamatan bisa memulai layanan ramah lingkungan. Mulai dari kampanye pernikahan minim sampah hingga layanan administrasi tanpa kertas.
Gerakan lintas agama untuk penanaman mangrove dan pemulihan DAS. Pesisir Malalayang, Bunaken, dan Tongkaina adalah titik-titik strategis yang bisa pula menjadi simbol kerja sama lintas iman.
Namun demikian, kita perlu memikirkan secara serius beberapa hal yang dapat menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan program ekoteologi. Pertama, kebiasaan kita yang sudah sangat mengakar dalam penggunaan plastik sekali pakai.
Saat kita berkunjung, misalnya, ke pasar-pasar rakyat, dan area-area kuliner, kita masih menyaksikan sampah plastik di mana-mana. Padahal polusi plastik adalah salah satu krisis global paling serius yang perlu dikurangi dari hulu ke hilir.
Disamping itu, ekoteologi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga keagamaan, sekolah, dan organisasi adat.
Sulut memiliki banyak aktor, namun belum ada forum lintas agama khusus untuk isu ekologi. Karena minimnya koordinasi para pihak yang berpotensi menjadi agen perubahan, dana operasional untuk program hijau seperti ini semakin sulit terwujud.
Pendanaan yang kuat melalui kerjasama mutlak diperlukan untuk kebijakan ekoteologi. Tetapi tanpa kolaborasi sistematis, efektivitas finansial akan terhambat.
Misalnya penanaman pohon, pelatihan pengelolaan sampah atau riset lingkungan daerah niscaya membutuhkan dana, bukan hanya besar tapi juga berkelanjutan. Tanpa skema pendanaan kreatif dan kuat, program seperti ini akan mudah berhenti di wacana.
| Bahasa yang Ditinggalkan: Ketika Sastra Tak Lagi Menjadi Rumah Berpikir di Sekolah |
|
|---|
| Otokritik atas Turunnya Posisi Manado dalam Indeks Kota Toleran |
|
|---|
| Hari Kartini dan Tantangan Demokrasi di Bumi Nyiur Melambai |
|
|---|
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Tulisan-opini-oleh-Sulaiman-Mappiasse-Dosen-IAIN-Manado.jpg)