Opini
Tradisi Budaya dan Teknologi
Media sosial menjadi sarana untuk memunculkan, melestarikan, dan mengangkat kembali budaya lokal ke ranah publik baik nasional maupun internasional.
Oleh:
Ambrosius M Loho, M.Fil
Dosen Universitas Katolik De La Salle Mando
Pegiat Musik Tradisi
DUNIA saat ini mementaskan sebuah fakta bahwa dunia semakin modern bahkan semakin bertransformasi. Demikian juga, di era globalisasi dan modernisasi kini, peran ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin penting dan dianggap vital. Modernisasi dan globalisasi ini juga, pada gilirannya dipandang akan mencakup transformasi kehidupan bersama, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi juga tercantum di dalamnya. Sejalan dengan itu, perkembangan internet dan banyaknya media baru, terutama media sosial, telah membawa perubahan dalam cara penyebaran informasi. Semua orang dengan mudah bisa mengakses informasi yang bermacam-macam dalam sekejap.
dalam konteks tulisan ini, penulis melihat bahwa tradisi budaya lokal di seantero Indonesia saat ini, ikut masuk dalam era modernisasi dan tergiring dalam arus globalisasi itu. Sebut saja, terdapat banyak kekayaan tradisi berbasis lokal, seakan dimodifikasi bahkan dikomodifikasikan untuk bisa menarik minat orang agar tertarik pada sesuatu yang secara riil sangat tradisional. Contohnya, musik tradisi saat ini, mulai diupayakan untuk dimodernisasi dalam hal aransemennya demi laku di pasaran. Namun apapun itu, sisi positif pada akhirnya menjadi penjamin dari bertransformasinya musik tradisi ini.
Demikian juga, dalam seni tari, orang mulai menggarap nuansa-nuansa dan warna modern dalam garapan koreografi tari. Para pelatih pun berupaya dengan tetap mempertahankan budaya dasar yakni tradisi setempat, digiring untuk menggarap ke arah yang lebih transformatif, demi permintaan pasar.
Kendati demikian, dalam upaya-upaya pemodernan ini menurut hemat penulis tidaklah salah. Berarti pula sah-sah saja. Mengapa demikian, karena sebagaimana uraian penulis di atas, bahwa itu imbas atau dampak dari modernisasi dalam ilmu pengetahuan teknologi, maka justru selebihnya harus dilihat bahwa iptek, dengan pelbagai platform media sosial yang tercakup di dalamnya, harus dijadikan wadah yang sangat prospektif untuk memopulerkan budaya tradisi lokal semisal seni musik dan tari berbasis tradisi itu.
Demikian juga, dalam kerangka itu, kenyataan di atas ini, justru harus semakin menguatkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi platform untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memunculkan, melestarikan, dan mengangkat kembali budaya lokal ke ranah publik baik nasional maupun internasional.
Sejalan dengan itu, teknologi yang mengejawantah lewat platform media sosial atas cara tertentu harus dapat menciptakan ruang diskusi yang mendorong apresiasi terhadap keunikan dan keberagaman budaya. Maka dari itu, dapatlah dikatakan bahwa kunci sukses pemanfaatan teknologi bagi berkembangnya budaya adalah menemukan keseimbangan antara preservasi dan inovasi. Di sisi yang sama, kolaborasi antara ahli teknologi dan budayawan menjadi sangat penting juga. Jadi, dengan optimis yang jauh ke masa depan, teknologi diyakini akan terus membentuk cara kita berinteraksi dengan tradisi budaya itu sendiri, termasuk hal yang terpenting lainnya adalah memastikan bahwa teknologi tetap menjadi sarana atau alat yang ‘melayani’ budaya. Dengan pendekatan yang bijaksana dan kolaboratif juga diyakini bahwa kita dapat menciptakan ekosistem digital yang tidak hanya melestarikan tradisi budaya tetapi juga memungkinkannya berkembang dan tetap relevan bagi generasi mendatang. (https://winnicode.com/explore/berita/Teknologi/).
Sejalan dengan itu, salah satu dampak positif paling signifikan dari teknologi adalah sebagai sarana yang ampuh bagi pelestarian dan promosi warisan budaya lokal. Hal itu bisa melalui arsip digital, museum online/virtual dan artefak budaya, cerita, dan tradisi yang telah didokumentasikan, dilestarikan, dan dibagikan kepada audiens secara global. Hal ini juga sangat penting bagi budaya yang berisiko punah akibat globalisasi, migrasi, atau faktor lingkungan. Misalnya, bahasa asli dan tradisi lisan dapat direkam dan diakses oleh generasi mendatang melalui platform digital, memastikan kelangsungan dan revitalisasi mereka. Teknologi juga dapat memberdayakan perajin lokal dan wirausaha budaya dengan menyediakan platform baru untuk memamerkan dan menjual produk serta layanan mereka. (https://energy.sustainability-directory.com/question/how-does-technology-impact-local-culture/).
Akhirnya, peran teknologi akan meluas hingga ke pertukaran budaya dan dialog antar budaya/antaretnis di mana di dalamnya akan saling terhubung orang-orang dari latar belakang yang berbeda, serentak terbuka kemungkinan untuk saling belajar. Demikianlah, media sosial, forum online, dan video conference memungkinkan setiap individu berbagi pengalaman budaya, perspektif, dan tradisi mereka dengan orang lain, termasuk memupuk pemahaman dan empati satu dengan yang lainnya. Pendek kata, di dalam sinergitas teknologi dan budaya lokal itu, akan terjadi proses promosi dan sharing pemahaman antarbudaya. (*)
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
| Catatan Seorang Jurnalis: We Shall Overcome |
|
|---|
| Dari Prestasi ke Dampak: Menguji Arah Baru Digitalisasi Daerah |
|
|---|
| Paskah dari Staurosimon ke Anastasimon, Keniscayaan Kehidupan Kekal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Ambrosius-Loho.jpg)