Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Memanusiakan Kembali Dunia Medis

KASUS yang terjadi beberapa waktu belakangan ini yang melibatkan orang-orang medis di Indonesia terkait persoalan perundungan atau bullying mencoreng

Editor: David_Kusuma
Dok Tribun Manado
Adi Tucunan 

Oleh : Adi Tucunan (Staf Pengajar FKM Unsrat)
 
KASUS yang terjadi beberapa waktu belakangan ini yang melibatkan orang-orang medis di Indonesia terkait persoalan perundungan atau bullying telah mencoreng dunia kesehatan kita.

Ada banyak peristiwa yang membuat kita semua bertanya-tanya, bagaimana bisa orang yang sedang dipersiapkan untuk menjadi seorang yang bekerja di sektor kemanusiaan diperlakukan dengan cara yang kurang beradab seperti itu, dengan melecehkan sisi kemanusiaan seseorang?

Pertanyaan ini seharusnya menjadi dasar pemikiran dari setiap insan yang membaktikan dirinya di dunia medis, secara khusus mereka yang mendidik atau membimbing para calon petugas medis untuk bisa berkarya melayani sesama manusia. Kita mulai khawatir, jika persoalan perundungan di dunia medis tidak ditangani dengan cukup bijaksana dan tegas, akan memberikan legacy atau warisan kepada generasi berikutnya untuk melakukan justifikasi dari semua tindakan yang dilakukannya, padahal itu adalah sebuah kesalahan fatal karena sudah dianggap biasa.

Sayang sekali, perspektif banalitas intelektual di dunia medis seperti sudah dilegalkan selama berpuluh-puluh tahun. Kasus perundungan dunia medis tidak hanya terjadi di belahan dunia tertentu seperti Indonesia, tapi ini merupakan fenomena global.

Bahkan berbagai jurnal-jurnal ilmiah top dunia seperti Lancet dan National Institute of Health telah memuat dalam laporan mereka oleh berbagai ilmuwan tentang kasus perundungan dan diskriminasi yang terjadi di dunia medis kita.

​Saya membatasi tulisan ini secara singkat dalam konteks pendidikan di dunia medis yang sedang menyiapkan sumberdaya manusia yang seharusnya memiliki kompetensi dan rasa kemanusiaan yang tinggi untuk dididik dengan cara-cara yang manusiawi dan bertanggungjawab tanpa diskriminasi dari sisi kemanusiaan seseorang.

Pendidikan dunia medis yang seharusnya menjadi proses pembentukan karakter kuat dan memberikan sentuhan nilai kemanusiaan yang tinggi bagi kandidat petugas medis, sudah selayaknya diperjuangkan oleh institusi pendidikan medis di manapun berada.

Perilaku disabilitas moral dan etika dalam dunia medis seharusnya tidak boleh ditolerir​karena kita semua tahu dampak negatif yang timbul dari persoalan ini. ada banyak kasus terkait perundungan di dunia medis yang sudah dilaporkan oleh banyak media dan mendapat investigasi dari berbagai kalangan termasuk Kementerian Kesehatan.

Kasus terbaru dibekukannya program pendidikan dokter spesialis penyakit dalam (PPDS) di RSUP Prof. Kandou membuktikan ada masalah serius yang selama bertahun-tahun tidak dianggap sebagai persoalan hanya karena perspektif yang terbatas dalam kita melihat masalah ini sebagai hal biasa karena sudah sering dilakukan. Ini seharusnya menjadi evaluasi panjang bagi seantero jagad medis dunia pendidikan.

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa menciptakan dokter-dokter berbelas kasih jika dalam proses pendidikan mereka dilecehkan kemanusiaannya seperti itu? Kekerasan baik fisik maupun psikis tidak bisa ditolerir dalam dunia medis karena ini akan melahirkan para generasi yang lumpuh secara psikologis dan ini akan mempengaruhi kondisi kejiwaan seorang tenaga medis untuk bertindak dengan benar dalam pelayanannya.

​Kasus stres, tidak menjadi petugas medis saat sudah dilantik atau tidak berpraktik setelah selesai pendidikan ternyata sudah dilaporkan dalam majalah Lancet di Inggris. Dalam kasus bunuh diri beberapa waktu lalu seorang dokter yang mengambil pendidikan di Undip Semarang, membuktikan bahwa ada fenomena global di seluruh dunia di mana cara-cara pendidikan yang manusiawi nampaknya terjadi degradai atau dehumanisasi yang cukup mendalam di banyak pendidikan medis di seluruh dunia.

Seolah kesamaan ini seperti diinstitusionalisasikan di seluruh dunia, karena tidak hanya terjadi di Indonesia. Saya melihat ini adalah penyakit infeksi baru dalam dunia medis kita yang bernama infeksi perundungan sejauh kita mempersepsikan ini adalah pandemi psikologis yang membuat pembenaran atas nama menguji ketahanan mental, kesetiaan dan segala bentuk terminologi yang dipakai untuk menjustifikasi tindakan mereka.

Dalam konteks pendidikan, seharusnya kita mencari cara yang lebih manusiawi dan bermartabat untuk menjaga kekuatan dan daya tahan mental para calon petugas medis, bukan dengan sengaja menginjak-injak martabat mereka. Kesadaran untuk memahami masalah pendidikan yang sesungguhnya, mungkin akan cukup membantu kita melihat persoalan ini dengan jernih untuk memperbaiki segala kerusakan yang timbul.

​Salah satu yang perlu dikoreksi dalam dunia pendidikan medis kita adalah gaya feodal yang dipakai selama berpuluh-puluh tahun tapi dianggap sebuah kebenaran sehingga melahirkan banalitas intelektual karena sudah menganggap ini adalah hal lazim dan biasa saja, sehingga kita tidak peka lagi bahwa dalam urusan mendidik manusia, kita perlu mengubah tradisi dan konsep gaya lama karena itu sudah tidak bisa dipakai dan dibenarkan di abad seperti sekarang.

Kita tidak bermaksud untung menghilangkan upaya menggembleng kekuatan mental dan fisik dari para anak didik calon petugas medis karena itu sudah seharusnya ada dalam pendidikan medis karena dunia pendidikan memang terkadang tidak nyaman dan perlu perjuangan di sana.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved