Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hikmah Ramadhan

Belajar Ikhlas dari Kisah Tiga Laki-Laki dalam Goa

Diceritakan sebuah riwayat mengenai tiga orang laki-laki yang tengah berjalan-jalan hingga masuk ke dalam sebuah goa.

|
Editor: Rizali Posumah
Dokumentasi Tribun Manado
Prof. Dr. KH. Ahmad Rajafi, M.H.I, Rektor IAIN Manado dan Rois Syuriah PCNU Manado 

Karena kedua temannya berhasil menggerakkan batu besar tersebut dengan doa, akhirnya orang ketiga mengikuti keduanya dan berdoa:

“Ya Allah, aku memiliki beberapa pegawai di kantorku, satu hari aku berikan gaji mereka masing-masing kecuali satu orang yang tak datang dan tak mengambil gajinya.

Karena sudah begitu lama, akhirnya gaji tersebut aku investasikan hingga berkembang.

Lalu setelah sekian lama berlalu, tiba-tiba orang itu datang dan meminta haknya, mak aku serahkan semua hasil investasi yang telah berkembang tanpa ku ambil sepeserpun dari hasil keuntungan yang ada dan ia mengambilnya semua.

Maka ya Allah, jika aku lakukan semua itu karena berharap ridha-Mu, maka bebaskanlah aku dari apa yang aku alami ini.”

Lalu batu itu bergerak sehingga akhirnya mereka dapat keluar meninggalkan tempat tersebut.

Kisah di atas menggambarkan betapa keikhlasan dapat dilatih dari tiga hal:

Pertama, keikhlasan ketika mengurus orang tua hingga ajal mendatangi mereka, dan jalan keikhlasan ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena bersentuhan langsung dengan kepentingan dan kebebasan hidup pribadinya, walhasil banyak yang tidak siap dan tidak ikhlas ketika mengurus orang tua, apalagi bila dibenturkan dengan pilihan, apakah memilih kepentingan istri dan anak-anak atau orang tua.

Kedua, keikhlasan dalam menjalani pertaubatan kepada Allah atas kemaksiatan yang telah dilakukan, dan jalan pertaubatan diawali dengan ketakwaan (ingat dan takut akan murka Allah swt) baik karena kesadaran pribadi atau karena nasihat orang lain;

Ketiga, keikhlasan dalam berbagi kepada sesama.

Mengenai hal ini, manusia memiliki potensi kuat untuk terpedaya dengan gemerlap duniawi, sehingga Allah mengingatkan melalui hadirnya QS. At-Takatsur.

Oleh karenanya, demi mendapatkan keiklhasan pada konteks materi ini, Islam mengajarkan beberapa pola berbagi.

Dari mulai nafkah di dalam keluarga, infak untuk urusan agama, sedekah demi kepentingan sosial, hingga zakat sebagai kewajiban personal sebagai abdi Tuhan menuju kesalehan sosial.

Dan ketika seseorang sudah tidak memiliki apa-apa lagi, tidak akan ada rasa kesal dan bersedih dalam dirinya karena ia merasa bahwa pada hakikatnya harta hanyalah titipan Allah swt. Wallahua’lam.

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved