Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulawesi Utara

Inilah Arti dan Makna I Yayat U Santi, Kalimat yang Kerap Diteriakkan Ormas Adat Manguni di Sulut

Lantas yang jadi pertanyaan sebenarnya apa si I Yayat U Santi itu? I Yayat U Santi ternyata merupakan

|
Editor: Indry Panigoro
Dokumentasi Wawali Tomohon
Para Penari Kabasaran Saat Berteriak I Yayat U Santi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pernahkan Anda mendengar teriakan I Yayat U Santi?

Kalau bagi masyarakat Sulawesi Utara ( Sulut ) teriakan I Yayat U Santi sudah familiar di telinga warga Sulut.

Pasalnya di setiap kegiatan budaya ada ormas Manguni yang kerap teriak I Yayat U Santi.

Lantas yang jadi pertanyaan sebenarnya apa si I Yayat U Santi itu?

I Yayat U Santi ternyata merupakan seruan untuk mengangkat pedang untuk berperang.

Kalimat I Yayat U Santi ini kerap diteriaki ormas manguni dalam berbagai kegiatan budaya.

Diketahui teriakan I Yayat U Santi ini akan secara membahana diteriaki oleh seorang Sarian ( panglima ) pemimpin ritual Kawasaran. Teriakan itu disambut ratusan peserta dengan jawaban "wouw!"

Pekikan bersahutan terus menggema diiringi sabetan pedang, tusukan tombak, dan tameng berseliweran. Ritual Kawasaran merupakan seni tradisi perpaduan gerak tari dan pertempuran yang dimiliki oleh masyarakat adat Minahasa, Sulawesi Utara.

I Yayat U Shanti memiliki arti yang dalam, "Angkatlah pedangmu dan marilah berperang." Teriakan panglima disambut dengan kata "wouw" oleh prajurit perang yang artinya kurang lebih "Tentu!"

Lapangan Sam Ratulangi dan Benteng Moraya, Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, tampak memerah oleh ratusan anggota ritual Kawasaran. Beberapa anggota tampak menggunakan topi berbulu burung, menunjukkan bahwa mereka adalah para pemimpin kelompok.

Ritual Kawasaran dilakukan pada Sabtu (17/3/2018). Ritual dilakukan dalam upacara Hari Kebangkitan Masyarakat Adat ke-19 yang digelar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Ekspresi wajah peserta ritual yang sebelumnya ramah mendadak berubah 180 derajat, garang dengan mata melotot tanpa senyum. Sementara pedang dan tombak terhunus siap menyerang lawan.

Budayawan dan Dosen Universitas Sam Ratulangi, Fredi Wowor, menjelaskan bahwa ritual Kawasaran berusia lebih dari 1.800 tahun. Pasukan Kawasaran merupakan penjaga atau pelindung wilayah di Minahasa. Saat ini sering digunakan untuk mengantar tamu, menjaga tamu dan tuan rumah jika ada kegiatan besar.

"Kawasaran dilakukan pada kegiatan besar, berfungsi sebagai pengawal kegiatan, termasuk pesta perkawinan. Kawasaran juga dimaknai jika terjadi sebuah ancaman maka akan muncul para pelindung negeri," ujarnya.

Beberapa orang masyarakat adat menjelaskan kawasaran sebagai representasi budaya Minahasa dalam menjamu tamu.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved