Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulawesi Utara

Inilah Arti dan Makna I Yayat U Santi, Kalimat yang Kerap Diteriakkan Ormas Adat Manguni di Sulut

Lantas yang jadi pertanyaan sebenarnya apa si I Yayat U Santi itu? I Yayat U Santi ternyata merupakan

|
Editor: Indry Panigoro
Dokumentasi Wawali Tomohon
Para Penari Kabasaran Saat Berteriak I Yayat U Santi 

"Apabila anda berkunjung ke wilayah kami, maka akan kami jamu, namun bila anda merusakanya maka perlawanan yang akan anda temui seperti makna I Yaayat U Shanti," ungkap Meliza, salah seorang anggota ritual.

Sejarah Kawasaran

Beberapa referensi menyebutkan ritual Kawasaran atau Kabasaran sering dilakukan para prajurit Minahasa sebelum atau sepulang dari medan perang. Menurut adat masyarakat Minahasa, dulunya untuk melakukan ritual ini harus berasal dari keturunan Kawasaran juga. Setiap keluarga Kawasaran biasanya memiliki senjata khusus yang diwariskan secara turun-temurun.

Nama Kawasaran berasal dari kata dasar “wasal” yang berarti ayam jantan. Bagi masyarakat Minahasa, ayam jantan sendiri merupakan simbol keberanian atau kejantanan. Hal ini bisa dilihat dari wajah para penari saat menari dengan ekspresi wajah yang garang, jantan, dan gagah berani.

Ritual biasanya diiringi oleh alat musik tradisional yang sering disebut dengan Pa’wasalen. Dalam Pa’wasalen tersebut terdiri dari alat musik seperti seperti gong dan tambur.

Kawasaran dan Perjuangan Masyarakat Adat

Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi dalam pidatonya disaksikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, menyebutkan Kawasaran sebenarnya simbolisasi dari perjuangan masyarakat adat Minahasa.

"Kita sedang merayakan kebangkitan masyarakat adat di tempat bersejarah yaitu Benteng Moraya. Di tempat ini pernah terjadi Perang Tondano. Juga perayaan hari ini diawali dengan ritual Kawasaran yang merupakan simbol perang. Marilah kita memaknai Benteng Moraya dan Kawasaran sebagai tekad bulat masyarakat adat untuk terus berjuang, memerangi penindasan, kebodohan dan peminggiran masyarakat adat yang masih terjadi di berbagai pelosok Nusantara. Semua itu demi mewujudkan cita-cita luhur kita bersama yaitu Indonesia dan Masyarakat Adat yang berdaulat, mandiri dan bermartabat .I Yayat U Santi!," sebut Rukka dalam pidato pembukaannya. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved