Opini
Spirit Hari Amal Bhakti Kementerian Agama, Dari IAIN Manado Menuju Indonesia Emas 2045
RABU 3 Januari 2024 kita diingatan dan diajak meneropong momentum sejarah pada 3 Januari 1946, tonggak penting berdirinya Kemenag RI
Selain itu, Hari Amal Bakti Kementerian Agama juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait dengan nilai-nilai keagamaan, etika, dan moral. Kementerian Agama dapat mengambil inisiatif untuk mengadakan kegiatan edukatif, seminar, atau lokakarya yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran agama dan bagaimana masyarakat dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang, Kementerian Agama juga dapat menggunakan Hari Amal Bakti sebagai kesempatan untuk memperkenalkan program-program inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Misalnya, pemanfaatan teknologi PUSAKA super app dalam menyampaikan pesan keagamaan, pelaksanaan pendidikan agama yang inklusif, atau program pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.
IAIN Manado Sebagai Lokomotif Moderasi Beragama dalam Bingkai Multikulturalisme
Dalam momentum peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-78 juga dapat menjadi kesempatan bagi Kementerian Agama untuk merespons umpan balik masyarakat dan terus berupaya memperbaiki diri untuk memberikan pelayanan yang berkualitas bagi umat beragama di Sulawesi Utara. Salah satunya melalui kehadiran Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado.
IAIN Manado sejak 2017 merumuskan visi menjadi perguruan tinggi Islam yang bermutu berbasis masyarakat multikultural di Asia Tenggara tahun 2035. Perumusan visi tersebut dilatari oleh konteks sosial dan dinamika budaya masyarakat di Sulawesi Utara yang dikenal multi-etnis, agama dan ras.
Berdasar data yang dupublikasi di situs resmi sulut.bpk.go.id dipaparkan bahwa total populasi di Provinsi Sulut sebesar 2.575.933 jiwa dengan persentase suku Minahasa 30 persen, Sangir 19.8 persen, Mongondow 11.3 persen, Gorontalo 7.4 persen dan Tionghoa 7.4 persen, sedangkan agama yang dianut untuk Kristen Protestan 63.60%, Islam 30.90%, Katolik 4.40%, Kong Hu Cu 0.02%, Budha 0.14%, dan Hindu 0.58%.
Atas dasar inilah maka kami memiliki komitmen untuk menghadirkan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri yang berorientasi pada integritas, inovasi akademik dan memiliki jejaring global didasari nilai kearifan lokal.
Tidak berlebihan jika kami mengatakan bahwa IAIN Manado sebagai “lokomotif” moderasi beragama dalam bingkai multikulturalisme untuk peningkatan pemahaman antar umat beragama, dialog antar keyakinan, akomodatif terhadap budaya lokal dan peningkatan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan tersebut merupakan langkah penting dalam membangun masyarakat yang moderat, inklusif dan toleran di Sulawesi Utara.
Transformasi menuju Universitas Islam Manado
Pada aspek pengembangan Institusi, saat ini IAIN Manado sedang mempersipakan diri menuju transformasi alih status menjadi Universitas Islam Manado. Alih status tersebut juga dapat dilihat sebagai strategi untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.
Misalnya, perguruan tinggi yang semula berfokus pada penyelenggaraan tingkat sarjana dan Magister dapat memutuskan untuk menjadi universitas yang menawarkan program Doktoral untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang lebih luas di Sulawesi Utara.
Selain itu pengembangan riset dan Inovasi dapat menjadi strategi untuk memperkuat fokus pada penelitian dan inovasi. IAIN Manado beralih ke status universitas untuk meningkatkan reputasi dalam penelitian dan berkontribusi pada kemajuan ilmiah dan teknologi. Memperkuat kerjasama baik dalam dan luar negeri pada aspek tridarma perguruan tinggi; membangun kerjasama dengan kolompok-kelompok sosial khususnya sektor usaha dan industri.
IAIN Manado sebagai Lembaga Publik tentunya memiki prisinp transparansi dalam menyampaikan pencapaian, kendala yang dihadapi, serta rencana-rencana masa depan akan memperkuat akuntabilitas lembaga ini di mata masyarakat. Kritik dan masukan yang konstruktif dari berbagai pihak juga dapat dijadikan sebagai dasar untuk perbaikan dan peningkatan kualitas layanan Pendidikan Tinggi.
Dengan demikian, Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-78 bukan hanya sebagai momen perayaan rutin, tetapi juga sebagai panggung untuk menunjukkan tekad dan komitmen dalam menjalankan tugasnya sebagai lembaga yang memiliki peran penting dalam membina dan menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat yang heterogen.
Momentum ini seharusnya menjadi awal yang baik untuk menjalin kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi keagamaan, pemerintah, lembaga agama, dan masyarakat demi menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan damai menuju Indonesia Emas 2045. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.