Catatan Willy Kumurur
Sepak Bola, Politik dan Seni
Pentas sepak bola adalah tempat yang luas untuk sportivitas yang sejati atau hanya imajinasi.
Oleh: Willy Kumurur
Penikmat bola
ADAKAH hubungan antara sepak bola dan politik? Dapatkah keduanya berdiri terpisah tanpa dicampur-adukkan?
Jawabnya adalah sepak bola dan politik tak dapat dipisahkan, sekalipun secara normatif bola adalah bola dan politik adalah politik.
Bukankah kegagalan negeri kita menjadi tuan rumah Piala Dunia U20 adalah karena politik?
Tengoklah Argentina. Satu semester sebelum Piala Dunia 2022 di helat di Qatar, kancah politik dalam negeri pimpinan Alberto Fernández bergejolak mengakibatkan tiga menteri ekonomi dipecat dalam empat minggu.
Empat dari sepuluh rakyat Argentina miskin dan bank sentralnya mengalami kehabisan cadangan devisa, akibat melemahnya mata uang lokal.
Keberhasilan Lionel Messi dkk meraih Piala Dunia 2022 adalah oase di tengah gurun kemelut ekonomi-politik domestik Argentina sambil menghadirkan kegembiraan bagi rakyatnya untuk sejenak melupakan kesulitan sehari-hari.
Laga antara Real Madrid versus Barcelona di gelanggang kompetisi La Liga Spanyol yang disebut El Clasico adalah produk pertentangan politik antara “pusat dan daerah”.
Rivalitas itu telah berusia lebih seratus tahun, tak hanya sekadar persaingan untuk dan atas nama sepak bola itu sendiri.
El Clasico dibangun di atas genangan darah, desingan peluru, luka, dendam dan harga diri.
Kemenangan yang diraih identik dengan tegaknya eksistensi, gengsi, harkat dan martabat pemenangnya: Catalonia yang direpresentasikan oleh El Barca. Sedangkan Madrid, ibukota Spanyol yang diwakili oleh El Real.
Jenderal Franco, diktator Spanyol di era tahun 1930-an, sangat memihak klub ibukota yaitu Real Madrid. Sedangkan Barcelona adalah simbol perlawanan Catalonia terhadap hegemoni Franco dan Madrid.
Di bawah pemerintahan Franco, Madrid harus menang atas Barcelona. Bahkan Presiden Barcelona, Josep Sunyol i Garriga, ditembak mati di pinggir jalan oleh tentara fasis pimpinan Jenderal Franco.
Puncaknya pada 1938, ketika Jenderal Franco membantai 3.500 milisi separatis Catalonia. Maka pertempuran di ajang El Clasico pun semakin panas dari waktu ke waktu.
Tidaklah berlebihan jika Richard Fitzpatrick dalam bukunya El Clasico: Barcelona v Real Madrid: Football's Greatest Rivalry, menggambarkan persaingan Los Blaugrana vs Los Blancos sebagai the bitterest rivalry in world football (rivalitas paling pahit dalam sepakbola dunia).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/willy-kumurur.jpg)