Opini
Humanitas sebagai Tujuan Pendidikan
Humanitas adalah keadaan ideal di mana manusia diperlakukan dan memperlakukan dirinya sebagaimana adanya sebagai manusia.
Oleh:
Ambrosius M Loho
Dosen Filsafat Unika De La Salle Manado
Penulis
ILMU humaniora adalah ilmu yang terkait erat dengan manusia. Pernah terjadi bahwa ilmu humaniora dianggap sebagai kelas nomor dua karena dipandang sebagai ilmu yang teramat mudah bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu berbasis eksakta, seperti ilmu fisika, ilmu matematika, dan ilmu-ilmu lainnya.
Penelusuran atas pengertian humaniora dalam sejarah peradaban umat manusia menjadi salah satu titik tolak yang sangat penting. Woodhouse (2002:1) dalam artikelnya yang berjudul The Nature of Humanities: Historical Perspektive menegaskan bahwa istilah humaniora yang berasal dari apa yang dikembangkan oleh Cicero, yang disebutnya humanitas.
Humanitas adalah faktor penting dalam pendidikan untuk menjadi orator yang ideal. Penggunaan istilah humanitas oleh Cicero mengarah kepada pengertian umum yakni kualitas, perasaan, dan peningkatan martabat kemanusiaan dan lebih berfungsi normatif daripada deskriptif. (Sastrapratedja, 1998:1, dalam Modul Humaniora). Maka inti dari humaniora selalu bermuara pada konsep pendidikan humanitas yaitu suatu pembelajaran yang bertujuan menjunjung tinggi dan mengembangkan kemanusiaan baik secara individual untuk yang bersangkutan maupun secara sosial untuk masyarakat pada umumnya.
Selain itu, humaniora berarti dua hal. Pertama, sekumpulan ilmu kemanusiaan seperti filsafat, sejarah, bahkan ilmu-ilmu bahasa. Kedua, cara pengajaran yang mencoba mengangkat unsur-unsur pemanusiaan dalam pengajaran. Di sisi lain, humaniora bisa bertujuan agar kita bisa menikmati hidup, supaya kita menjadi manusia yang otentik/asli yang merasa nyaman di mana pun kita berada dan dengan siapapun kita bersua.
Bambang Sugiharto dalam Humanisme & Humaniora (2008), menyimpulkan beberapa poin penting berkaitan dengan humaniora, sebagai alternatif bagi pengembangan pendidikan terutama untuk masa depan.
Pertama, diri sebagai agen perubahan. Bahwa individu merupakan agen perubahan terutama bagi peradaban. Dengan kata lain, individu/diri merupakan pelaku utama yang tak pernah bisa dihilangkan, terlebih lagi dalam situasi yang nyata sekarang ini yang terus berkembang.
Kedua, tanggung jawab dan keadilan terhadap yang lain. Kerangka berpikir ini adalah kerangka yang memprioritaskan dan membela hak orang lain terlebih dahulu. Dengan demikian, hak kita sendiri dijamin. Ilmu pengetahuan berharga bukan hanya sebagai oleh kecerdasan, tapi menjadi jalan menuju tahapan hidup yang lebih tinggi.
Ketiga, kemampuan melihat ‘alternatif baru’. Bahwa kurikulum perlu membentuk kemampuan peserta didik untuk setiap kali memperbaharui kembali pemikiran-pemirannya degnan cara menyerap apa yang bermunculan dalam interaksi global dan dari sana melihat berbagai kemungkinan baru untuk berpikir, merasa dan berhubungan.
Keempat, sikap kritis atas tata nilai kultural. Kemampuan mengkritik diri sendiri bukan hal yang perlu dihindari, sebaliknya justru merupakan cara memperkuat akar budaya sendiri. Ini bukan sekadar soal identitas, tapi lebih sebagai soal integritas dan otentisitas dalam kerangka pertumbuhan menjadi semakin matang.
Maka berdasarkan apa yang diuraikan di atas, humanitas sejatinya adalah tujuan pendidikan. Humanitas yang coba dikembangkan dan menjadi inti pemikiran Driyarkara, misalnya, tetap bermuara pada integritas dan otentisitas manusia yang terus menerus harus disempurnakan sehingga dari situ mampu mencapai kematangan. Humanitas adalah keadaan ideal di mana manusia diperlakukan dan memperlakukan dirinya sebagaimana adanya sebagai manusia. Oleh karena itu, humanitas menjadi prasyarat dari otentisitas. Dan, sebaliknya otentisitas menjadi gerbang bagi humanitas. Itulah saat di mana manusia mengalami dirinya sebagai manusia. Humanitas adalah kemanusiaannya. Manusia bereksistensi sesuai dengan kodrat kemanusiaannya.
Di saat yang sama, pendidikan memampukan manusia untuk memiliki karakter yang peka budaya. Kekuatan keberlangsungan budaya dalam kacamata Indonesia adalah terwujudnya bentuk penghormataan, penghargaan, perlindungan, dan jaminan terhadap pluralisme dan multikulturalisme. Salah satu tolok ukurnya, penghargaan terhadap karya seni atau keindahan yang mengalir di dalam kebudayaan, bahkan menjadi ciri khas dari kebudayaan tertentu. Manusia terdidik dengan baik dipastikan mampu membuat filter atas posesivitas yang hiperbolis. Originalitas kebudayaan dalam pluralitas dan multietnisnya tidak akan serta merta dimodifikasi secara akulturatif dengan kemasan kebarat-baratan yang malah menghilangkan kearifan lokal di dalam budaya yang plural.
Jadi, pendidikan membentuk setiap individu untuk memperhatikan tantangan sejarah yang terus berubah. Seorang yang terdidik tidak akan tinggal lama di dalam gua gelap tanpa mau melihat kemajuan global dan ikatan jejaring yang semakin meluas. Dalam hal ini, tidak ada istilah kacamata kuda yang tidak mengizinkan setiap individu melihat sisi kanan dan kirinya. Kemajuan suatu peradaban dimaknai sebagai kodrat alamiah yang pasti selalu berlangsung tanpa terlepas dari akarnya, ibarat roda yang tidak pernah lepas dari aksisnya.
Pendidikan juga memproduksi pribadi yang inovatif dalam karya dan ide. Pendidikan yang notabene adalah transfer pengetahuan tidak berhenti pada penyajian ilmu pengetahuan yang sudah jadi (science product), melainkan pada proses bagaimana ilmu pengetahuan itu terbentuk (science production). Mental kreatif harus jauh melampaui mental konsumeris. Penemuan-penemuan baru tercipta dari pribadi-pribadi yang tidak mudah merasa nyaman dengan produk sains dan mengonsumsi perkakas pabrik atau ilmu dari buku cetak. Setiap penemuan-penemuan baru tercipta dari motivasi yang dibangun dalam kultur pendidikan yang mendorong setiap peserta didik untuk mengadakan penelitian yang valildatif dan komprehensif.
Terakhir, pendidikan memampukan suatu karakter humanis dengan keunggulan akademik sekaligus rasa bela rasa terhadap situasi sosial yang diwarnai dengan perjuangan keadilan melawan ketidakadilan. Berbicara tentang HAM, tidak lepas dari bicara soal ketidakadilan. Keadilan hanya akan terwujud jika di dalam setiap manusia terdapat karakter untuk peduli. Karakter ini dipupuk di dalam proses pendidikan. Generasi para genius abad Renaisans lahir bukan hanya keunggulan mereka dalam aritmatika, geometri, dan astronomi belaka, tapi juga bagaimana rasa itu diolah di dalam diri mereka melalui ilmu pengetahuan yang dipelajari. Maka, lahirlah generasi genius nan kritis dengan kepedulian yang besar terhadap keadilan dan kesejahteraan umum.
Dengan beragam karakter di atas, diyakini bahwa pendidikan akan terus bergerak maju. Pendidikan tidak akan pernah dilepaskan dari kehidupan manusia. Pendidikan akan terus berlangsung, baik secara formal maupun informal, bukan untuk mengejar apa yang bersifat non-manusiawi tetapi terlebih pada apa bersifat manusiawi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Humanitas-sebagai-Tujuan-Pendidikan.jpg)