Opini

Fenomena Politik Praktis, Perilaku Koruptif dan Dekadensi Moral di Perguruan Tinggi

Pemilihan Rektor Unsrat yang terhambat karena terus ditarik ke wilayah politik praktis menjadi sebuah fenomena yang perlu diseriusi

Editor: David_Kusuma
Dokumentasi Pribadi Adi Tucunan
Adi Tucunan (Pengamat Sosial Kemasyarakatan) 

Penulis: dr Adi Tucunan Mkes (Pengamat Sosial Kemasyarakatan)

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemilihan Rektor Unsrat yang terhambat karena terus ditarik ke wilayah politik praktis menjadi sebuah fenomena yang perlu diseriusi, bukan karena ini terkait pemilihan pimpinan perguruan tinggi saja; tapi karena ini adalah masalah kebangsaan di mana pertaruhan kredibilitas institusi pendidikan sebagai organisasi publik yang harus berjalan lurus dan benar serta menjunjung tinggi integritas, serta etik dan moral perlu mendapat keseriusan dari kita semua.

Permainan politik praktis yang sarat kepentingan dari mereka yang mengais rejeki dari even seperti ini, ditambah lagi kemungkinan mismanajemen dalam tata kelola anggaran dari proyek pengadaan barang dan jasa di perguruan tinggi; serta good governance yang tidak tercapai optimal; membuat sebuah ‘konspirasi’ untuk saling menutupi dan melindungi kesalahan, menjadi sebuah tradisi di perguruan tinggi.

Masih teringat kasus lama, pimpinan perguruan tinggi yang sudah tercium aroma korupsi besar-besaran oleh KPK, tapi sampai detik ini tidak terdengar upaya hukumnya; karena mereka sangat pandai bermain dengan masalah hukum dan berlindung di balik aparat penegak hukum.

Bukan rahasia lagi, bahwa banyak pejabat di Indonesia yang bisa lolos dari jerat hukum karena kedekatan dengan partai politik, pejabat negara dan aparat hukum dan semua itu tidak gratis tapi mereka harus membayar harganya. Perguruan tinggi sebagai benteng moral harusnya menjadi panutan untuk menjadi jujur dan tidak tamak serta rakus; bukan sebaliknya memperkaya diri sendiri.

Kasus Rektor Universitas Negeri Lampung, Karomani yang terjaring OTT KPK memperlihatkan bahwa Perguruan Tinggi sebagai institusi penjaga moral bangsa tidaklah steril dari kasus korupsi dan mulai runtuhnya moral dan etika kaum cendekiawan di republik ini. Data ICW menunjukkan bahwa dalam periode 2006-2016 yaitu satu dekade, ada sekitar 37 kasus korupsi yang terkait dengan perguruan tinggi; dan tren ini bukannya menurun tapi terus meningkat.

Angka kasus di atas hanya yang ditemukan, tapi banyak kasus yang tidak terselesaikan dan ditemukan walaupun kasusnya ada. Perguruan tinggi sebagai institusi yang bergerak dalam dunia pendidikan seharusnya merupakan organisasi yang menjadi mercusuar bagi masyarakat dan bangsa; tapi dengan munculnya begitu banyak kasus di perguruan tinggi semakin membuktikan ada yang salah dengan banyak perguruan tinggi di Indonesia.

Kasus korupsi hanyalah salah satu komponen rusaknya para kalangan cendekiawan di negeri ini, yang terlalu ingin hidup mewah tapi hidup tidak jujur. Sekitar 80 persen kasus korupsi di negeri ini melibatkan lulusan perguruan tinggi. Ini sangat merendahkan martabat perguruan tinggi sebagai pelaku pendidikan, sekaligus yang mengajarkan kita semua arti sebuah nilai kejujuran; tapi mereka yang hidup di perguruan tinggi ternyata tidak menjadikan moralitas sebagai panduan; tapi hanya mempelajari ilmu pengetahuan sekedar untuk mendapatkan uang dan jabatan.

Perjuangan kita untuk melawan ketidakjujuran di negeri ini masih sangat jauh nampaknya, karena masalah penyalahgunaan jabatan di Universitas terlampau besar terjadi. Ada pimpinan dan dosen perguruan tinggi yang terlibat korupsi, ada yang terlibat paham radikal, ada yang kasus pelecehan seksual dan sebagainya.

Kita menjadi tersentak dan merenung, mengapa dekadensi moral terus terjadi di tempat sakral sekelas universitas. Cara kita memandang dengan perspektif etis dan filosofis tentang makna nilai pendidikan, semakin terdegradasi karena perilaku oknum-oknum di perguruan tinggi yang memainkan skenario mencari profit, bukannya berperan dalam mencerdaskan bangsa.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved