Opini
Fenomena Politik Praktis, Perilaku Koruptif dan Dekadensi Moral di Perguruan Tinggi
Pemilihan Rektor Unsrat yang terhambat karena terus ditarik ke wilayah politik praktis menjadi sebuah fenomena yang perlu diseriusi
Peradaban tertinggi adalah membangun budaya bukan prestasi, tapi kita di Indonesia cenderung membalikkan keutamaan sebagai prestasi; sehingga kita tidak punya budaya yang mengawal etika dan moral ke tempat yang seharusnya seperti yang dilakukan oleh negara-negara yang sudah lebih maju. Kita tidak perlu mewariskan sains dan teknologi kepada anak cucu kita hanya atas nama kebanggaan prestasi; tapi yang harus kita lakukan adalah mewariskan karakter yang luhur dan unggul kepada generasi setelah kita.
Prestasi akan muncul dengan sendirinya jika konsep pembangunan karakter sudah berjalan efektif. Apakah para pemimpin perguruan tinggi di Indonesia termasuk Unsrat, berpikir sampai jauh ke sana atau hanya terjebak dengan kepentingan pragmatis, sehingga dengan mudah terjebak dalam politik praktis, berlindung di balik pemimpin daerah atau partai politik serta penegak hukum, jika kita memiliki skandal moral? Kita semua seharusnya punya kepedulian untuk melahirkan praktek-praktek yang jujur di level kepemimpinan perguruan tinggi, karena akan menuntun generasi muda kita melewati abad-21 dengan penuh tantangan dan dibutuhkan kekuatan karakter yang bisa diandalkan.
Kalau pemimpin perguruan tinggi saja sudah mengalami dekadensi moral, maka kita tidak bisa berharap banyak untuk melakukan sesuatu yang lebih dalam membantu generasi muda mencari jalannya sendiri.
Sebagai orang yang lahir dan dibimbing oleh Unsrat, saya menyadari sepenuhnya apa yang Sam Ratulangi ingatkan kepada generasi kita sekarang ini, bahwa tujuan kita menjadi pelayan publik adalah melayani manusia agar mereka bisa disejahterakan, bukan memperalat mereka sebagai objek untuk mendapatkan profit; kita tidak benar jika hanya mencari uang dari jabatan yang diamanatkan kepada kita.
Para anggota senator yang berusaha mencari pemimpin universitas, yang hanya mengandalkan uang sogokan dan transaksi jabatan untuk memilih, benar-benar tidak mempunyai hati nurani; karena mereka mengorbankan nilai-nilai fundamental dunia pendidikan, serta civitas akademika secara keseluruhan dan masyarakat pada umumnya.
Saya ingin menggugah mereka yang hanya cerdas secara akademis tapi tidak cerdas secara emosional dan spiritual; sehingga dengan mudah tanpa pikir panjang mengkhianati para leluhur pendidikan yang berpesan kepada kita semua, bahwa kita harus menjunjung tinggi martabat dan nilai-nilai pendidikan. Mereka yang ‘berdagang’ alias mencari untung di kampus, seharusnya tidak menjadi pendidik.
Negeri ini dirugikan oleh segelintir orang yang hanya menjadi benalu bagi republik ini. Mereka lulusan perguruan tinggi terbaik bahkan dari universitas top dunia, tapi sulit menjadikan karakter dan moral sebagai penuntunnya. Seorang guru besar, dianggap ‘besar’ karena kontribusinya bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat bukan membesarkan kepentingannya sendiri, jika karyanya hanya terlihat dalam jurnal ilmiah tapi terselubung skandal yang tidak beretika dalam perilakunya, itu mempermalukan dirinya sendiri.
Dies Unsrat seharusnya dijadikan momentum introspeksi dalam skala yang luas, bukan hanya sebuah perayaan seremonial belaka. Mereka yang hanya bangga dengan menggunakan seragam kebesaran bernama ‘TOGA’ sebagai anggota senat tapi tidak memiliki keluhuran budi dalam konteks mencari pemimpin; perlu sadar dan bangkit! Belum ada kata terlambat untuk memperbaiki semua kesalahan dan kekeliruan demi Unsrat yang lebih baik.
Saya hanya bisa berdiri tegak dan berkata, saya bangga menjadi bagian dari Unsrat karena karakter yang tertanam di dalamnya, bukan rasa malu karena Unsrat disoroti di panggung internasional atau dunia sebagai institusi yang lemah karena membiarkan perilaku etik yang abnormal.
Jayalah Unsrat ke depan dengan transformasi manusianya bukan gedungnya. (*)