Catatan Willy Kumurur
Portugal Vs Perancis di Euro 2020, Air Mata Itu Belum Kering
Penulis adalah penikmat bola. Tinggal di Kota Bogor. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
Oleh: Willy Kumurur
Penikmat bola. Tinggal di Kota Bogor. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
DI MALAM FINAL EURO 2016, tatkala Antoine Griezmann dan kawan-kawan memasuki lembah pertempuran.
Mereka mengenang penyair abad ke-19 Perancis, Arthur Rimbaud.
Ia pernah menulis sajak berjudul Le dormeur du Val (Yang Tertidur di Lembah): adalah sebuah lubang di hamparan hijau di mana sebatang kali bernyanyi, berpeluk seerat-eratnya pada rangkum rerumputan jerami, keemas-emasan, di mana mentari, di atas gunung megah, bersinar: adalah sebuah lembah yang membiaskan sinar.
Saat itu, Perancis menggantungkan harapannya di langit Paris untuk membuat hattrick merebut gelar Euro untuk ketiga kalinya setelah tahun 1984 dan 2000.
Pasukan Didier Deschamps ingin memberi hadiah indah dan menghibur publik Perancis yang mengalami kesulitan ekonomi. Lawan mereka adalah Portugal.
Griezmann dan kawan-kawan juga ingin memberi bukti bahwa negerinya selalu sukses merengkuh gelar juara setiap kali menjadi tuan rumah.
Perancis menjadi juara Piala Dunia 1998 tatkala Perancis menjadi tuan rumah. Impian indah Les Bleus itu melampaui tingginya Menara Eiffel.
Impian itu masih terpelihara sampai menit ke-109, tatkala pemain pengganti Portugal, Eder, datang merusak impian itu dengan tendangan kerasnya dari luar kotak penalti.
Ia membawa bola menyusur rerumputan dengan laju, sebelum merobek gawang yang dijaga Hugo Lloris.
"Ronaldo mengatakan bahwa saya akan mencetak gol kemenangan," ujar Eder usai meraih tropi Henry Delauny.
Lembah yang bernama Stade de France – Paris, ternyata menjelma menjadi lembah air mata.
Air mata itu dimulai setelah laga final Euro 2016 berlangsung 24 menit, tatkala Cristiano Ronaldo mengalami cedera lutut sehingga ia tak sanggup meneruskan perjuangan membantu Portugal meraih mimpi, mencatat sejarah: menjuarai Piala Eropa untuk pertama kalinya.
Air mata pedih itu tertumpah karena berambisi untuk meraih titel juara Eropa kian jauh.
Namun air matanya berubah menjadi air mata bahagia, ketika skor 1-0 bertahan sampai Mark Clattenburg, wasit yang memimpin laga final, meniup peluit panjang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/willy-kumurur_20180213_095358.jpg)