Catatan Willy Kumurur
Portugal Vs Perancis di Euro 2020, Air Mata Itu Belum Kering
Penulis adalah penikmat bola. Tinggal di Kota Bogor. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
Air mata pedih berlinang-linang di pipi Patrice Evra dan kawan-kawan.
Pasukan Les Bleus asuhan Didier Deschamps mesti menerima kenyataan bahwa Stade de France bukanlah lembah sukacita bagi negerinya.
Kekalahan mereka dari pasukan Fernando Santos, mengakibatkan gagalnya mereka mengukir sejarah menyamai Jerman dan Spanyol mencetak hattrick.
Akhirnya, bukan tuan rumah Perancis, melainkan Portugal-lah yang menulis sejarah.
"Tak ada kata-kata yang bisa melukiskan kenyataan pahit itu. Sebuah kekecewaan besar dan butuh waktu lama bagi kami untuk bisa menerima kenyataan itu. Kami menang bersama-sama, menderita bersama-sama, dan sayangnya hari ini kami kalah bersama-sama. Alangkah sangat indahnya meraih trofi di depan publik sendiri, tetapi sayangnya hal itu tak terwujud," ujar Deschamps sedih.
Dini hari nanti, Perancis akan Kembali berhadapan dengan Portugal di Grup F EURO 2020.
Kepada media Inggris, The Guardian, Griezmann mengatakan bahwa Perancis akan menyalurkan kemarahan dari hasil imbang mereka melawan Hungaria dan rasa sakit akibat kekalahan di final Euro 2016 ke final grup mereka dengan Portugal.
Kemenangan Perancis atas Jerman tidaklah mengesankan karena gol Perancis dihasilkan dari gol bunuh diri bek Jerman, Matt Hummels.
Sedangkan melawan Hungaria, mereka hanya sanggup bermain imbang 1-1.
Stadion Puskas Arena di Budapest adalah kancah pertempuran antara Portugal (juara Piala Eropa 2016) dan Perancis (juara Piala Dunia 2018).
Setelah dihajar Jerman 2-4, pelatih Portugal tatkala diwawancarai oleh DailyMail.co.uk mengatakan, 'Hari ini adalah hari untuk menangis, namun kami harus membalikkannya ketika menghadapi Perancis dengan semangat juang yang sama ketika kami mengalahkan Hungaria.
Bagi Perancis, kekalahan di final Euro 2016, masih terasa menyiksa.
Masih terbayang derita kekalahan ketika mereka hanya bisa tertunduk lesu dan bersimbah air mata di depan publiknya sendiri.
Bahkan penyair Rimbaud mungkin tak dapat menghibur meski ia menulis sajak indah: serdadu muda itu terlentang di atas rerumputan, bernaung mega, pucat pasi di atas ranjang hijaunya bermandikan sinar alam, dekaplah dia erat hangat: dia lagi kedinginan.****
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/willy-kumurur_20180213_095358.jpg)