Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Pemimpin dan Pengetahuan Politik

seseorang yang akan menjadi pemimpin, harus ditunjang oleh pengetahuan mendalam tentang bagaimana menjadi pemimpin, termasuk menjadi pemimpin politik.

Dokumentasi pribadi
Ambrosius Loho 

Oleh:
Ambrosius M Loho M.Fil
Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado
Pegiat Filsafat-Estetika

PEMIMPIN menjadi tokoh kunci kemajuan sebuah kelompok, organisasi bahkan negara. Sebagai tokoh kunci, pemimpin harus mengetahui banyak hal karena sosok dia akan selalu berada di garis terdepan kelompok yang dipimpinnya. Kendati begitu, menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Paling tidak seorang pemimpin harus memiliki: visi, keterpanggilan, kemanusiaan, kepelayanan, ketulusan, kesantunan, perjuangan, penderitaan, pengorbanan, tanggung jawab, intelektualitas, emosional, spiritualitas, dedikasi, dan solidaritas. Apa dan bagaimana pun itu, itu hanyalah sebagian kecil keutamaan yang ideal dalam diri seorang pemimpin politik. (Bdk. https://regional.kompas.com/read/2009/08/04/07233046/layakkah.aku.menjadi.pemimpin.politik?page=all).

Jadi. pemimpin harus memiliki berbagai keutamaan, juga supaya bisa membawa kemajuan kelompok yang dipimpinnya. Keutamaan pemimpin (politik) sudah didiskusikan sejak zaman Yunani kuno. Para filosof Yunani kuno, memahami bahwa pemimpin yang baik dan benar adalah yang memiliki ‘arete’ (keutamaan).

Di zamannya, para filosof itu pun telah mempelajari dan mendalami prinsip-prinsip ‘arete’ dan diyakini golongan inilah yang paling ideal memimpin suatu negara. Demikian juga, ‘arete’ harus menjadi ‘habitus’ bagi siapa pun yang akan menjadi pemimpin. (bdk. Setyo Wibowo, 2010: 9). Itu ideal dari seorang pemimpin. Maka demikianlah, seseorang yang akan menjadi pemimpin, harus ditunjang oleh pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana menjadi pemimpin, termasuk menjadi pemimpin politik.

Pengetahuan politik bagi Plato, dibandingkan dengan seni ‘menggembalakan’ manusia. Idealnya, menurut Plato, hanya orang-orang yang memiliki pengetahuan politik-lah yang berhak menjadi negarawan. Terkait hal ini, penulis berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang substansial, yang harus menjadi esensi demi menjadi seorang pemimpin. Dalam dialog Plato dengan seorang dari Elea, dikatakan bahwa: Yang terbaik adalah bukan kekuasaan berbasis hukum, melainkan kepemimpinan oleh orang yang bijak dan punya kodrat. (bdk. Suryajaya 2016: 171). Statement dalam dialog ini, sebetulnya berbanding terbalik dengan keadaan sekarang. Mengapa? Karena di saat sekarang orang justru mengganggap tak ada yang boleh lebih bijak daripada hukum. Akibatnya massa (rakyat jelata), yang tak punya pengetahuan tentang politik, dipandang mampu memimpin sebab menurut mereka, sudah ada hukum tertulis yang bisa dijadikan pegangan untuk memimpin. Dari dialog singkat ini, tampak bahwa menjadi pemimpin harus memiliki keutamaan dan pengetahuan menjadi pemimpin.

Bagaimana yang dimaksud dengan pengetahuan politik itu? Sebagaimana diuraikan oleh Suryajaya, dalam 'politeia' (dialog panjang Plato ketika berkunjung ke Sirakusa dan Sisilia), hanya dijelaskan soal pengetahuan sebagai penguasaan atas berbagai aspek keutamaan moral. Sementara dalam ‘politikos’ (dialog Sokrates dengan seorang asing dari Elea) justru fokus pada bagaimana pengetahuan politik itu. Jadi, ‘politikos’ ‘lahir’ sebagai ‘pelengkap’ terkait pengetahuan politik bagi seorang pemimpin. Dalam ‘politikos’ dikatakan bahwa pengetahuan politik seorang pemimpin harus dilengekapi/diperkuat pula oleh 3 elemen penting: Elemen pertama, pengawasan. Seorang negarawan mesti mampu mengawasi seluruh hal yang terjadi berkenaan dengan polis (negara kota). Seorang negarawan harus menjadi fungsi mengawasi seluruh hal dalam sebuah ‘polis’ yang dipimpinnya.

Elemen kedua adalah pengendalian. Seorang negarawan harus berbeda dengan seorang retorikawan. Negarawan berfungsi mengendalikan retorikawan sekaligus juga massa. Sementara seorang retorikawan hanya berfungsi mem-persuasi massa dan mengendalikannya. Ilmu seorang negarawan adalah ilmu yang mengendalikan ilmu persuasi dan pembicaraan. kedua sosok yang dijelaskan ini (negarawan & retorikawan), memang beda dalam sebuah polis. Pada elemen kedua ini, bagi Plato, yang paling mungkin untuk menjadi seorang pemimpin, adalah sosok yang bisa mengendalikan orang-orang di dalam polis.

Elemen ketiga, dan yang terpenting adalah penyelarasan. Seorang negarawan diibaratkan Plato seperti seorang ahli menenun. Ia mesti mampu menyelaraskan berbagai tendensi dalam polis dan mengalihkan tendensi yang saling bertentangan. Dengan begitu maka sebetulnya yang mengancam keselamatan polis, menjadi selaras satu sama lain dan justru menopang polis secara keseluruhan. (Suryajaya 173).

Dari ketiga elemen di atas, Plato bahkan memberi contoh perbandingan seseorang yang berkeutamaan ‘ugahari’ dan keberanian yang kerap saling berkonflik dalam masyarakat. Orang yang berani cenderung suka berperang, sementara di saat yang sama mengabaikan kegiatan intelektual dan praktis lainnya. Sebaliknya orang yang ugahari cenderung tak suka perang dan lebih banyak terserap dalam permenungan atau kegiatan praktis yang damai. Namun apabila kecenderungan kedua ini dominan, maka polis akan mudah ditekan oleh polis lain. Dari sini Plato menggambarkan bahwa tidak cukup seorang negarawan/pemimpin hanya memiliki sikap ugahari. Dia perlu berani dan tentu perlu pengendalian diri, demi kemajuan sebuah polis. Jadi seorang negarawan yang baik mesti menenun kedua kecenderungan tersebut agar saling mengisi dan justru berguna bagi stabilitas ‘polis’. Dengan ini, Plato mengawali apa yang kemudian dikenal dalam tradisi pemikiran politik di kemudian hari yakni prinsip pembangunan pemerintahan yang stabil dan akuntabel. (ibid.174).

Intinya, pemikiran politik para filosof Yunani kuno ini, tentu terlampau ideal, tapi yang ideal ini, hemat penulis, menjadi pilihan yang paling baik untuk sebuah negara. Negarawan/pemimpin, harus memiliki pengetahuan politik untuk bisa menjadi pemimpin. Kini kita akan menghadapi situasi pemilihan pemimpin daerah, mari kita melihat apakah para [calon] pemimpin yang ada kini telah memiliki pengetahuan politik atau tidak. Selanjutnya terserah Anda! (*)

Baca juga: Kisah Buce Rompas, Ayah dari Danlantamal VIII Manado yang Seorang Wartawan Meliput Peristiwa Sejarah

Baca juga: Perusahaan Asal China Bakal Bangun Pabrik Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia

Baca juga: Batik Air Layani Rute Makassar - Manado, Danang Mandala Sebut Jalur Peminatnya Cukup Tinggi

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved