Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Pembuktian Leluhur Minahasa, Antara Graafland dan Weliam H Boseke

Perhatikan Graafland menyebut masa lalu masyarakat itu: Terhormat! Ini jelas tak jauh berbeda dengan terjemahan Boseke untuk Kinilou: yang ditinggikan

Istimewa
Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) Surabaya diabadikan dalam bedah buku "Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa" di Surabaya, Senin (9/11/2020). 

Oleh:
Stefi Rengkuan
Anggota Presidium Ikatan Sarjana Katolik (Iska)
Wakil Bendahara Perhimpunan Intelektual Kawanua Global (PIKG)
Anggota Pengurus Pusat Ikatan Alumni STFSP

[Ini ada buku sejarah Minahasa yg sdh lama sy baca, sdh agak lupa, tp sy lihat lagi krn lagi rame bicara temuan PDHLM pak Boseke di Sby. Buku ini tulisan N. Graafland, guru Kristen pendiri sekolah guru pertama di Tomohon dan Tanawangko, terbitan Rotterdam th 1869, terjemahan Yoppy Kulit 1987. Dan sgt surprise bg sy, ada tulisan mengenai Kinilow, desa kecil di pinggiran barat Tomohon, yg dr bbrp catatan sejarah, adalah kampung tertua di wil Tombulu/Tomohon. Ada cerita rakyat mengenai masa "purbakala", yg menurut penulis terlalu jelas kisahnya sehingga diakui hal itu pernah ada!! Mengejutkan bg sy, krn klu dibaca teliti, bgn2 inti ceritanya a.l: Masa lalu yg "terhormat", dahulu sgt berkuasa dan begitu ditakuti, lalu "asal" mereka (?), sejumlah kecil laki2, perempuan dan anak2, dtg dgn perahu, dihanyutkan arus dgn tdk tahu tujuannya, gayanya memandang keliling dgn hati2 menunjukkan rasa takut, spt ada malapetaka telah menghalau mereka dari tempat kelahirannya, mencari suaka, (dan tertulis slanjutnya) takut dijadikan budak!]

SAYA merinding membaca postingan Dr Tonny Parengkuan ini sebagai kelanjutan dari upaya beliau menanggapi secara positif dan progresif hasil temuan Weliam H Boseke (melalui buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa). Sejauh saya ikuti, pemahaman dan penalaran dokter senior di Surabaya ini sangat runtut dan sangat kena terkait inti temuan dalam buku pertama ini.

Menanggapi info ini Boseke sangat kaget dan memberi info bahwa arti kata 'Kinilow' dari bahasa Han adalah "Yang ditinggikan/Yang mulia dengan segenap tenaga berpatroli" (mengelilingi dinasti).

Perhatikan Graafland menyebut masa lalu masyarakat itu: Terhormat! Ini jelas tak jauh berbeda dengan terjemahan Boseke untuk Kinilou: yang ditinggikan = yang mulia. Prof Perry Rumengan mengutip Boseke yang sering mengulangi bahwa di sekitar Kinilow ada kampung tua yang bernama Mayesu (Han = kembali ke negeri Shu).

Nah, hasil pembacaan Dokter Tonny pada literatur tua dari seorang yang telah berjasa besar membangun pendidikan dan persekolahan di tanah Minahasa, ini sangat luar biasa dan mengagumkan. Pasalnya literatur ini malah tak diketahui oleh Boseke.

Sesungguhnya, kalau kita membaca buku karya Boseke, kisah kesaksian yang direkam oleh Graafland ini masih bisa ditemukan dalam Zazanian Ni Karema yang pernah didokumentasikan oleh H van Kohl.

Rupanya dokumentasi ini pernah diterjemahkan oleh seorang budayawan Minahasa, dan sejak itu menjadi rujukan. Boseke kemudian menemukan ada banyak kata yang tidak diterjemahkan atau diterjemahkan secara "rai-rai" yang berakibat fatal.

Dengan pendekatan monosilabel, Boseke bisa menerjemahkan secara lebih meyakinkan semua naskah itu. Dan ternyata sudah pernah didokumentasikan dalam kisah etnografis di desa Kinilow oleh seorang Graafland di atas seperti dilaporkan pembacanya di atas.

Zazanian Ni Karema merupakan bentuk sastra lisan yang indah karena tata bahasanya teratur dan ditulis dengan rapih oleh van Kohl. ZNK terdiri dari 3 babak, 28 bait, dan setiap bait terdiri dari 4 baris.

Halaman
12
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved