Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Ketika Agama Dinista

Selama satu semester pendek saya mendapat kesempatan untuk membaca di perpustakaan Sekolah Teologi Leiden dan Amsterdam.

Editor: Aswin_Lumintang
Ilustrasi 

Yesus sama sekali tidak mau mempertimbangkan ajakan itu. Mendengar pun Ia tidak mau. Ia tidak mau bersikap reaktif.

Akan tetapi, banyak orang cenderung bersikap reaktif. Jika dinista langsung kita balas dengan nistaan yang lebih keras. Dengan sikap reaktif itu kita merasa diri kuat dan hebat. Benarkah?

Tidak! Justru dengan membalas nistaan, kita terjebak ke dalam perangkap.

Membalas kegilaan seseorang akan membuat kita jadi sama gilanya dengan orang itu. Bodoh kita sendiri jika kita bersikap reaktif sebab sikap reaktif tidak menguntungkan, malah merugikan diri kita sendiri. Sikap reaktif malah kontra produktif.

Apa reaksi Kristus bila saya melaporkan tentang lukisan di kaki lima Amsterdam itu? Apakah sama seperti teman-teman di asrama, Kristus menertawakan saya?

Tidak! Air muka-Nya tidak berubah.

Ia mengangkat kepala dan menyimak laporan saya dengan saksama.

Lalu Ia mengenyitkan dahi, menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecut.

Lalu, tanpa sepatah kata ia kembali menunduk dan dengan tenang Ia melanjutkan membaca.

Note.

Setiap penghinaan dan penistaan terhadap Kristus....
Tidak menurunkan derajat-Nya sebagai Allah.
Ia hanya tersenyum dan berkata minum Air Hidup dari-Ku..... maka engkau tidak akan haus lagi.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved