Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Memutus Peluang Resesi

Kalangan menengah ke atas cenderung berhati-hati melakukan konsumsi karena masih ada kekhawatiran pandemi ini akan berlangsung cukup lama.

Editor: maximus conterius
Tribun Manado/ Don Ray Papuling
Suasana Megamall yang masih sepi meski telah beroperasi. 

Oleh:
Anita Rafiqa Zein
Staf Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Kota Manado

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi Kota Manado pada bulan Juli sebesar 0,30 persen. Angka deflasi ini menduduki posisi terendah kedua di Pulau Sulawesi setelah Kota Makasar, dan lebih rendah dibandingkan angka nasional yang berada pada nilai minus 0,10 persen.

Deflasi sendiri merupakan penurunan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum dikonsumsi masyarakat. Sebagian orang masih menganggap kondisi penurunan harga ini adalah suatu hal yang menguntungkan. Tetapi jika dilihat dr sisi ekonomi, deflasi merupakan tanda yang membahayakan perekonomian suatu wilayah.

Salah satu pemicu deflasi adalah lemahnya daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa akibat berkurangnya pendapatan. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang sempat dilakukan pemerintah mengakibatkan masyarakat menengah bawah banyak yang menahan konsumsi karena kehilangan pekerjaan atau berkurangnya pendapatannya. Di sisi lain, masyakarat menengah atas cenderung melakukan saving untuk berjaga-jaga adanya resiko krisis.

Melemahnya daya beli masyarakat sejalan dengan pertumbuhan komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang terkontraksi sebesar -6,28 persen. Pengeluaran konsumsi rumahtangga (PK-RT) adalah pengeluaran atas barang dan jasa oleh rumahtangga untuk tujuan konsumsi. Dalam hal ini rumah tangga berfungsi sebagai pengguna akhir (final demand) atas berbagai jenis barang dan jasa yang tersedia di dalam suatu perekonomian. Konsumsi rumah tangga menduduki porsi terbesar dalam struktur ekonomi Sulawesi Utara menurut pengeluaran. Rendahnya konsumsi rumah tangga ditengarai salah satunya karena melemahnya perekonomian di Sulut. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tercatat sebesar minus 3,89 persen. Sebenarnya, angka ini masih di atas rata-rata nasional yang terperosok pada angka minus 5,32 persen (yoy). Namun, tampaknya perekonomian yang lesu ini menjadi alasan konsumsi rumah tangga juga turut terkontraksi. Di Sulawesi Utara, aktifitas pariwisata sangat terdampak dengan adanya pandemi Covid-19. Pariwisata menjadi penyebab tiga sektor tumbuh negatif secara signifikan. Ketiga sektor tersebut yaitu penyediaan akomodasi dan makan minum (-50,28 persen), transportasi dan pergudangan (-31,49 persen), dan jasa lainnya (-13,11 persen).

Data yang dirilis BPS sebenarnya memberikan clue bagi pemerintah Sulut untuk menyusun startegi prioritas dalam memperkuat ekonomi Sulawesi Utara pada kuartal ketiga. Strategi pertama yaitu ketiga sektor yang mengalami kontraksi terdalam segera dibangkitkan sehingga pertumbuhan ekonomi segera membaik dan ancaman resesi untuk Sulawesi Utara dapat kita hindari. Kedua, dari data deflasi dan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tekontraksi maka pemerintah perlu memberikan stimulus berupa bantuan-bantuan kepada masyarakat terdampak baik yang menjadi pengangguran atau yang berkurang pendapatannya sehingga daya beli masyarakat meningkat. Namun, pemberian bantuan tidak serta merta menjamin meningkatnya konsumsi rumah tangga mengingat masyarakat Sulawesi Utara tidak hanya dari lapisan menengah bawah tetapi juga terdapat masyakarat dari lapisan menengah ke atas. Kalangan menengah ke atas cenderung berhati-hati melakukan konsumsi karena masih ada kekhawatiran pandemi ini akan berlangsung cukup lama. Untuk meningkatkan daya beli masyarakat kelas menengah dan ke atas ada baiknya jika pemerintah dapat meredakan sisa kekhawatiran masyarakat akan pandemi ini.

Mengakhiri pandemi dengan cepat adalah hal yang harus menjadi prioritas utama. Krisis kesehatan ini berimbas ke permasalahan sosial dan ekonomi. Tidak hanya bantuan saja yang dibutuhkan masyarakat, tetapi perasaan aman akan hidup normal harus segera bisa dihadirkan. Ke depannya masyakarat bisa kembali beraktivitas, bekerja tanpa waswas, dan perekonomian akan kembali tumbuh. Berakhirnya pandemi ini akan memberikan banyak pelajaran bagi kita semua untuk memiliki cara bekerja yang baru dengan efisien dan mengandalkan teknologi secara optimal. (*)

Baca juga: Dituduh Jadi Dalang di Sejumlah Aksi Demonstrasi, SBY: Sakit Hati Saya Pak Jokowi

Baca juga: Habib Rizieq Shihab Dikabarkan Bakal Balik Indonesia, Pimpin Revolusi Selamatkan NKRI

Baca juga: Demo UU Cipta Kerja, Siswa SMP Bawa Jas Almamater Milik Ibunya Saat Ditangkap Polisi

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved