Opini
Bisnis Covid-19?
Mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi kita akan melihat geliat sektor bisnis segera menemukan model bisnisnya yang adaptif
Penulis: Dewangga Ardhiananta | Editor: David_Kusuma
Bisa dikatakan paradigma layanan kesehatan berlandaskan pada rasa percaya antara pengguna dengan penyedianya yang tertuang dalam informed consent.
Namun benarkah layanan kesehatan kita sedang panen finansial di kala pandemi?
Nyatanya tidak sepenuhnya benar, bahkan bisa sebaliknya.
Beberapa layanan kesehatan justru harus merumahkan tenaganya karena memberlakukan shift kerja.
Dampaknya, kapasitas layanan kesehatan mulai terbatas.
• ASN Kembali Masuk Kantor, Kepala BKPSDM: Unit Kerja Wajib Berlakukan Protap Kesehatan Covid-19
Makanya tidak heran jika beberapa layanan kesehatan mulai mengurangi penerimaan pasien dengan berbagai alasan, tentu saja dengan penolakan halus.
Ini memang posisi dilematis, layanan kesehatan yang terlalu membludak di saat pandemi justru akan menjadi boomerang baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat sebagai penggunanya.
Selain itu, jika kita lihat kasus Covid-19 di Sulawesi Utara, salah satu klaster dengan jumlah kasus yang banyak terjadi justru berasal dari tenaga kesehatan.
Hal ini merupakan pukulan telak buat sektor kesehatan kita, di mana layanan kesehatan masih ditempatkan sebagai ujung tombak menghadapi pandemi sedangkan kita saat ini belum melewati fase gelombang pertama pandemi yang entah kapan berakhir.
Sungguh tidak logis lagi jika ada yang menstigma bahwa layanan kesehatan sedang berbisnis Covid-19 untuk keuntungan personal atau layanan kesehatan, itu merupakan tuduhan yang tidak berdasar.
• Rumah Ibadah di Bolmong Dibuka Kembali dengan Sejumlah Syarat
Kami yakin, layanan kesehatan saat ini juga sedang terseok-seok untuk tetap memberi layanan prima buat masyarakat dengan segala keterbatasannya.
Lagipula jika kita memotret alokasi anggaran negara maupun daerah untuk kesehatan, masih jauh dari amanat konstitusi yang menyebutkan minimal 5 persen dari APBN dan minimal 10 persen dari APBD di luar gaji pekerjanya.
Dengan minimnya anggaran, maka kita mulai harus fokus menyelamat mereka yang hari ini sehat, agar tetap sehat.
Karena proporsi, pasien Covid-19 masih sangat sedikit di banding dengan mereka yang belum terinfeksi.
Oleh karena itu, kita harus menyadari kembali bahwa satu-satunya yang murah di sektor kesehatan hanyalah tindakan pencegahan, tidak ada yang lain.
Maka, bisnis masa depan sektor kesehatan idealnya adalah promosi kesehatan. (Ang)
• BREAKING NEWS: Bayi Perempuan Usia Setahun Asal Tomohon Sembuh dari Covid-19, Dirawat 18 Hari
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/asep-rahman-skm-mkes-554353.jpg)