Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Bisnis Covid-19?

Mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi kita akan melihat geliat sektor bisnis segera menemukan model bisnisnya yang adaptif

Tayang:
Penulis: Dewangga Ardhiananta | Editor: David_Kusuma
Istimewa
Asep Rahman SKM MKes 

Penulis: Asep Rahman SKM MKes (Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat, Sekretaris Lembaga Kesehatan NU Sulawesi Utara)

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Naluri seorang pebisnis akan melihat potensi pada setiap peluang.

Mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi kita akan melihat geliat sektor bisnis segera menemukan model bisnisnya yang adaptif.

Contohnya, Tole (Toko Online) Manado dan Pasar Bersehati dot com merupakan contoh karya pengusaha lokal Sulawesi Utara yang melakukan evolusi usaha menuju digitalisasi.

Sehingga tanpa didorong dengan kampanye ‘the new normal’, yang kadang justru menimbulkan salah persepsi, sektor ekonomi kita insyaallah bisa bangkit dengan versi terbarunya.

Lantas, benarkah ada yang sedang berbisnis Covid-19?

Harus diakui penanganan Covid-19 merupakan ‘lahan basah’ karena menyerap begitu besar sumber daya finansial.

Mulai dari penanganan medis hingga langkah non-medispun, semua menghabiskan energi yang tidak sedikit, maka tidak heran perlu reorientasi anggaran dalam menghadapi pandemi Covid-19 baik skala nasional maupun daerah.

Kepala BKPSDM Rezha Mamonto: Ibu Hamil Tidak Wajib Masuk Kantor

Semoga tidak menjadi peluang oknum tertentu untuk ‘berbisnis’ tidak etis dalam kondisi seperti ini.

Bukan saja saat pandemi, sektor kesehatan memang sudah dari sononya sudah dikenal dengan industri mahal, karena padat karya dan padat modal.

Sehingga tidak heran, industri kesehatan akan terus menjadi magnet investasi, apalagi menyerempet ke industri kosmetik.

Di sisi lain, industri kesehatan memiliki ciri khas, di mana posisi tawar-menawar dalam hukum ekonomi normal benar-benar tidak berlaku.

Seorang pasien yang membutuhkan tindakan medis darurat pastinya tidak dapat menawar harga dengan pihak rumah sakit akan tindakan yang harus dilakukan. 

Berbeda dengan produk barang atau jasa lainnya, di mana barang atau jasa yang gagal produksi atau layanan kurang memuaskan bisa dengan mudahnya kita melakukan komplain ke produsen barang atau jasa tersebut.

BW The Lagoon Manado Promo, Khusus Member Diskon 50 Persen, Ada Juga Rp 800 Ribu untuk 2 Malam

Kegagalan tindakan medis tidaklah tidak dapat dikomplain dengan dasar perlindungan konsumen, karena niat baik dari tenaga kesehatan guna melakukan tindakannya tidak boleh dibatasi dengan acaman harus sehat, tidak boleh cacat atau mati.

Bisa dikatakan paradigma layanan kesehatan berlandaskan pada rasa percaya antara pengguna dengan penyedianya yang tertuang dalam informed consent.

Namun benarkah layanan kesehatan kita sedang panen finansial di kala pandemi?

Nyatanya tidak sepenuhnya benar, bahkan bisa sebaliknya.

Beberapa layanan kesehatan justru harus merumahkan tenaganya karena memberlakukan shift kerja.

Dampaknya, kapasitas layanan kesehatan mulai terbatas.

ASN Kembali Masuk Kantor, Kepala BKPSDM: Unit Kerja Wajib Berlakukan Protap Kesehatan Covid-19

Makanya tidak heran jika beberapa layanan kesehatan mulai mengurangi penerimaan pasien dengan berbagai alasan, tentu saja dengan penolakan halus.

Ini memang posisi dilematis, layanan kesehatan yang terlalu membludak di saat pandemi justru akan menjadi boomerang baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat sebagai penggunanya.

Selain itu, jika kita lihat kasus Covid-19 di Sulawesi Utara, salah satu klaster dengan jumlah kasus yang banyak terjadi justru berasal dari tenaga kesehatan.

Hal ini merupakan pukulan telak buat sektor kesehatan kita, di mana layanan kesehatan masih ditempatkan sebagai ujung tombak menghadapi pandemi sedangkan kita saat ini belum melewati fase gelombang pertama pandemi yang entah kapan berakhir.

Sungguh tidak logis lagi jika ada yang menstigma bahwa layanan kesehatan sedang berbisnis Covid-19 untuk keuntungan personal atau layanan kesehatan, itu merupakan tuduhan yang tidak berdasar.

Rumah Ibadah di Bolmong Dibuka Kembali dengan Sejumlah Syarat

Kami yakin, layanan kesehatan saat ini juga sedang terseok-seok untuk tetap memberi layanan prima buat masyarakat dengan segala keterbatasannya.

Lagipula jika kita memotret alokasi anggaran negara maupun daerah untuk kesehatan, masih jauh dari amanat konstitusi yang menyebutkan minimal 5 persen dari APBN dan minimal 10 persen dari APBD di luar gaji pekerjanya.

Dengan minimnya anggaran, maka kita mulai harus fokus menyelamat mereka yang hari ini sehat, agar tetap sehat.

Karena proporsi, pasien Covid-19 masih sangat sedikit di banding dengan mereka yang belum terinfeksi.

Oleh karena itu, kita harus menyadari kembali bahwa satu-satunya yang murah di sektor kesehatan hanyalah tindakan pencegahan, tidak ada yang lain.

Maka, bisnis masa depan sektor kesehatan idealnya adalah promosi kesehatan. (Ang)

BREAKING NEWS: Bayi Perempuan Usia Setahun Asal Tomohon Sembuh dari Covid-19, Dirawat 18 Hari

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved