Ramadan 2020
Pesan-pesan Kebaikan Ramadan
Berbagai pesan kebaikan tersebut harus disadari, dipahami, serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
Penulis: Dewangga Ardhiananta | Editor: David_Kusuma
Penulis: Dr Jufri Jacob SE MS (Aktif di Badan Wakaf Indonesia Wilayah Sulut dan PHBI Kota Manado)
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sebagai media untuk mencapai derajat ketakwaan, ibadah puasa sarat dengan pesan kebaikan, baik yang berhubungan dengan Allah (hablun minallah) maupun manusia (hablun minannas). Berbagai pesan kebaikan tersebut harus disadari, dipahami, serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar siapapun yang menjalankan puasa mampu melakukan perbaikan di seluruh dimensi kehidupan.
Pertama adalah pesan moral.
Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai.
Rasulullah saw bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri. Di dalam kitab Madzahib fît Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan. Yakni naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adalah naluri syahwat.
• Nikmati Keindahan Air Terjun Tunan, Akses Mudah Menuju Lokasi
Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan.
Pertama, sifat kebinatangan; tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu.
Kedua, sifat buas; tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar.
Ketiga sifat syaithaniyah; tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia.
Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai seseorang, masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan sosial yang sangat mengkhawatirkan.
Di mana keadilan akan tergusur oleh kezhaliman, hukum bisa dibeli dan undang-undang bisa dipesan dengan uang, sulit membedakan mana yang hibah mana yang suap, penguasa lupa akan tanggungjawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan dipenuhi oleh keburukan dan kebaikan menjadi sesuatu yang terasing, ketaatan akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya dan seterusnya.
• Kepala Kejari Tomohon Pimpin Pelantikan Kasipidum Baru
Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat rububiyah; ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan. Orang yang dapat dengan baik mengoptimalkan sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya kebaikan, perilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi insan muttaqin, insan pasca Ramadan, yang menjadi harapan setiap orang.
Pesan kedua adalah pesan sosial.
Pesan sosial Ramadhan ini terlukiskan dengan ketika umat muslim mengeluarkan zakat baik zakat fitrah, zakat maal, infak dan sedekah kepada yang berhak menerimanya, terutama kaum fakir miskin tampak bagaimana tali silaturrahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan.
Semangat berzakat melahirkan kesadaran untuk tolong menolong antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan. Dalam kesempatan ini orang yang menerima zakat akan merasa terbantu beban hidupnya sedangkan yang memberi zakat mendapatkan jaminan dari Allah SWT; sebagaimana yang terkandung dalam hadis "Aku semalam bermimpi melihat kejadian yang menakjubkan. Aku melihat sebagian dari ummatku sedang melindungi wajahnya dari sengatan nyala api neraka. Kemudian datanglah shadaqah-nya menjadi pelindung dirinya dari api neraka."
Pesan ketiga adalah pesan jihad.
Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam
pengertiannya yang sempit; yakni berperang di jalan Allah akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh, yaitu: "Mengecilkan arti segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan keridhaannya, mendapatkan pahala serta keselamatan dari Siksa-Nya."
Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar. Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa ummat Islam baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai.
• Bupati Lumajang dan Bupati Boltim Saling Sindir, Ini Tanggapan Pengamat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/dr-jufri-jacob-se-ms.jpg)