Editorial Tribun Manado

Ironi Sulut FC

Batal pula status ‘wakil Sulut’ itu. Pun pupus sudah harapan para anak muda itu merasakan atmosfir sepak bola level nasional.

Ironi Sulut FC
Istimewa
Sulut FC juara Piala Soeratin Rayon Sulut. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - TANGGAL 28 Januari 2020 lalu Sulut FC menorehkan sejarahnya sebagai kampiun Piala Soeratin U-17 Rayon Sulawesi Utara. Pada laga final di Stadion Klabat Manado, klub besutan pelatih Rocky Jacob ini harus mengerahkan segala kekuatan untuk merengkuh prestasi, mengalahkan Persikokot Kota Kotamobagu dalam drama adu penalti. Tertinggal 0-1, pemain-pemain muda Sulut FC tidak habis semangat. Mereka terus berjuang. Hasilnya, mereka nyaris kalah jika saja gol satu menit jelang waktu normal tak terjadi.

Skor 1-1, tidak ada pemenang, penentuan dilalui dengan adu algojo. Sengit. Empat penendang Sulut United berhasil menjalankan tugas, berbanding tiga penendang Persikokot. Skor adu penalti 4-3 atau seluruhnya 5-4 untuk kemenangan Sulut FC. Kemenangan itu dilalui dengan kerja keras.

Kemenangan itu tidak hanya menjadikan Sulut FC juara. Tim ini juga menjadi wakil Sulawesi Utara untuk berlaga pada putaran 32 nasional di Malang, Jawa Tengah. Ini menjadi peluang untuk berprestasi, tapi juga menjadi kesempatan berharga bagi para pemain muda merasakan kompetisi yang lebih menantang. Apalagi dalam pengundian, Sulut FC berada dalam grup yang sama dengan Persib Bandung, PSPS Padang (Sumatra Barat) dan Kepri Belia FC (Kepulauan Riau).

Sebelum ke sana, tim harus mempersiapkan diri selama dua pekan. Tidak hanya teknik dan mental, tim juga harus mempersiapkan keperluan untuk berangkat dan tinggal selama kompetisi di sana.

Tak Ada Dana Berangkat, Sulut FC Kalah WO Lawan Persib Bandung di Soeratin Cup

Rupanya, faktor non-teknis inilah yang menjadi persoalan. Tim tidak punya cukup uang untuk tiba dan berada di sana. Kesimpulannya, tim batal berangkat. Pada laga perdana melawan Persib Bandung pada Selasa, 11 Februari 2020, tim dinyatakan kalah WO (walk out).

Dengan ketidakhadiran di Malang, batal pula status ‘wakil Sulut’ itu. Pun pupus sudah harapan para anak muda itu merasakan atmosfir sepak bola level nasional. Singkatnya, prestasi itu tak dapat diraih saat ini. Mereka harus menguburnya.

Anak-anak muda itu harus dihibur. Betapa tinggi semangat mereka memenangkan kompetisi rayon Sulawesi Utara, tapi tidak didukung untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. Dukungan itu tidak hanya semangat, tapi juga dengan persiapan yang matang, entah teknis maupun nonteknis.

Menang Adu Penalti 4-3, Sulut FC Juara Piala Suratin U17

Kita tidak berharap ironi Sulut FC ini terjadi pada klub lainnya, atau pada cabang olahraga lainnya. Sama seperti pembatalan cabang-cabang olahraga andalan Sulut untuk berlaga di ajang PON Papua.

Bila hal ini terulang, dikhawatirkan pembinaan olahraga kita mandek. Pun jangan pula heran bila nanti banyak atlet yang ingin pindah ke daerah lainnya, karena pada dasarnya para atlet itu butuh prestasi. (*)

Kesaksian Ahok Saat Pertama Kali jadi Tahanan: Saya Tulis, Tulis, Tulis Tiap Hari.

Tingkatkan Kesejahteran, PNS yang Pensiun Bakal Dapat Rp.1 Miliar, Begini Kata Tjahjo Kumolo

Wanita Ini Meninggal Usai Melahirkan Operasi Sesar, Suami Sempat Panggil Perawat: Katanya Itu Biasa

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved