Charlis Choesj Taulu, Pejuang Merah Putih di Sulawesi Utara
PERISTIWA heroik 14 Februari 1946 atau yang dikenal peristiwa Merah Putih di Sulawesi Utara, tidak bisa dipisahkan dari perjalanan
Sebelum melancarkan aksi, chali terus melakukan pertemuan dengan BW Lapian. Memang sebelumnya Chali bersama PM Tangkilisan, SD Wuisan dan kawan-kawan pada 7 Februari 1946 bertemu denga OH Pantouw. Tapi OH Pantouw menyarankan untuk bertemu dengan BW Lapian. Mulanya BW Lapian sempat bertanya apakah 30 orang tentara itu akan mampu mengalahkan militer Belanda yang masih ada sekitar 5/6 batalyon. Tapi.melihat semangat juga yang kuat, BW Lapian langsung memberikan dukungan dan mengatur strategi.
Sampailah pada puncak perjuangan 14 Februari 1946. Meski Ch Ch Taulu, SD Wuisan dan lain-lain ditangkap oleh Belanda, aksi merebut kemerdekaan tetap dilakukan. Mambi Runtukahu ditugaskan untuk memimpin sementara perebutan kekuasaan dwngan menguasai Tangsi Teling. Aksi ini berjalan dengan aman dan lancar dan tidak menyebabkan terjadinya tembak menembak apalahi pertumpahan darah. Setelah berhasil membebaskan Ch Ch Taulu, SD Wuisan di Tangsi Putih, Runtukahu kemudian menyerahkan kepemimpinan kepada Ch Ch Taulu. Mulai saat itu dilakukan penangkapan terhadap pimpinan militer Belanda. Mulanya mengamankan Sersan Mayor Wisjzier yang berada di Tangsi Putih selanjutnya menangkap Kapten Bloom yang rumah dinasnya berada di Sario. Yang lain membebaskan para tahanan dari kalangan sipil dan tokoh pemuda. Dan menguasai daerah di luar Manado seperti tempatan tahanan tentara Jepang di Wangurer Bitung, kemudian ke Tomohon tempat kediaman Letkol De Vries dan Tondano yabg jadi markas Polisi Belanda. Juga ke Bolaang Mongondow sampai Gorontalo.
Aksi ini langsung menjadi perhatian dunia setelah disiarkan Radio Brisbane Australia yang menangkap berita yang disiarkan Mr Robert Ensleih seorang markonis kapal barang SS Luna berkebangsaan Australia. Dari siaran radion Brisbane ini aksi ini diketahui kantor berita di Makassar, Jogyakarta, San Fransisco AS dan Belanda. Juga langsung ditanggapi oleh Presiden Soekarno yang berada di Jogyakarta. Juga menjadi berita utama sejumlah surat kabar yang ada di Jakarta.
Sekutu memberi perhatian khusus terhadap aksi ini karena mengkhawatirkan keselamatan para tahanan perang Jepang. Karena ini menjadi kesepakatan berakhirnya Perang Dunia II.
Meski akhirnya perlawanan Ch Ch Taulu bisa ditumpas kembali oleh Belanda yang dibantu Sekutu dan tidak solidnya para pejuang, tapi setidaknya peristiwa ini telah membuka mata dunia bahwa Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta adalah kemerdekaan seluruh wilayah Indonesia baik di Indonesia Barat maupun Indonesia Timur.
Sekaligus juga menegaskan bahwa Minahasa bukan anak emas Belanda apalagi digembar-gemborkan sebagai Provinsi ke 12 Belanda. Juga, unruk pertama kalinya dua kekuatan rakyat menyatu yaitu dari kalangan militer da kalangan sipil, sampai bendera Merah Putih tetap berkibar selama 25 hari di persada Sulawesi Utara.(dikutip dari skripsi berjudul: ch ch taulu pejuang merah putih di sulawesi utara.*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ch-taulu.jpg)