Breaking News
Sabtu, 9 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Charlis Choesj Taulu, Pejuang Merah Putih di Sulawesi Utara

PERISTIWA heroik 14 Februari 1946 atau yang dikenal peristiwa Merah Putih di Sulawesi Utara, tidak bisa dipisahkan dari perjalanan

Tayang:
Editor: Aswin_Lumintang
repro
Ch Taulu 

Oleh : Tenni GM Assa

PERISTIWA heroik 14 Februari 1946 atau yang dikenal peristiwa Merah Putih di Sulawesi Utara, tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sebab peristiwa  perebutan Tangsi Militer Belanda di Teling yang ditandai dengan  menaikkan bendera Merah Putih --sebelumnya bendera Belanda yang berwarna Merah Putih Biru dan kemudian warna Biru dirobek--  telah mematahkan propaganda Belanda bahwa kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Ir Soekarno dan Drs Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No 56 hanya di Jawa dan Sumatera.

Tenny Assa
Tenny Assa (istimewa)

Peristiwa yang akhirnya menjadi perhatian dunia ini tidak lepas dari sosok Charlis Choesj Taulu yang menjadi pemimpin di kalangan militer.

Siapa sosok Ch Ch Taulu ini. Berikut tulisan  biografi singkat Ch Ch Taulu yang diturunkan untuk menghargai dan memaknai semangat dan kejuangan Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946.

Ada dua tokoh sentral di balik peristiwa yang ikut menghebohkan dunia, terutama tentara Sekutu yang baru memenangkan Perang Dunia II. Mereka adalah Charlis Choesj Taulu yang berpangkat Sersan KNIL kemudian diangkat menjadi Letnan Kolonel atau Overste dan BW Lapian seorang politisi dari kalangan sipil dan telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Ch Ch Taulu adalah sosok pejuang sejati yang mengikuti pendidikan militer Belanda di Magelang selama 9 bulan dengan pangkat Sersan.  Meski menerima pendidikan militer dari Belanda, tapi kecintaannya terhadap Tanah Air Indonesia tidak diragukan.

Chali --panggilan akrab Ch Ch Taulu-- lahir di Kawangkoan pada tanggal 28 Mei 1909. Dia,  anak ke 2 dari pasangan Agustinus Rawis Taulu asal Kawangkoan dan Maria Waney asal Rumoong Tareran Minahasa Selatan. Chali memiliki 13 bersaudara. Saudara-saudaranya ada yang lahir di Kawangkoan serta lahir dan   wafat  di Magelang.

Mereka sebelumnya tinggal di Sendangan Kawangkoan Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Ch Ch Taulu dan ketiga saudaranya yaitu, Frans G Taulu (Kakak) dan Adon E Taulu (adik) diboyong orang tuanya ke Tanah Jawa, setelah pada tahun 1914 ayahnya AR Taulu diterima sebagai tentara Belanda atau KNIL. AR Taulu  diterima  di Manado selanjutnya dikirim ke Jogyakarta dan kemudian ditempatkan di Magelang yang memiliki sekolah militer Belanda, ketika itu dikenal sebagai Sekolah Kader.

Memang sejak usia anak-anak sampai memasuki remaja Ch Ch Taulu melihat adanya perlakuan diskriminasi terhadap warga Indonesia yang disebut orang pribumi. Chali mengawali pendidikan di Lagere School, lamanya pendidikan 7 tahun dengan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Setelah lulus dia masuk MULO dengan lamanya pendidikan 4 tahun. Meski pun dia mendapat kesempatan sekolah di sekolah Belanda, tapi perlakuaannya tidak sama dengan murid-murid orang Belanda.

Di sinilah awal  munculnya rasa nasionalisme di jiwa Ch Ch Taulu. Apalagi setelah dia mengikuti pendidikan militer di Kader School atau Sekolah Kader selama 9 bulan pada tahun 1928. Dia lulus dengan pangkat Sersan.

Selama menjalankan tugas militer Chali melihat dan merasakan perlakuan diskriminasi terhadap tentara KNIL yang pribumi. Semangat nasionalismenya semakin kuat ketika Chali bertugas di Manado. Memang setelah menyelesaikan pendidikan militer di Magelang, dia ditempatkan di Watampone (1939-1940). Tapi setelah Jepang  menguasai Indonesia, semua tentara Belanda termasuk tentara pribumi ditangkap. Chali dan keluarganya ditampung di Makassar. Mereka kembali ke Manado dari Makassar dengan menumpang Kapal Laut Dai Maru pada sekitar tahun 1942/1943 setelah dibebaskan dari tawanan tentara Jepang. Di Manado mereka tinggal di Pasar 9 Kampung Tomohon Titiwungen Dalam.

Di Manado, Chali bekerja di Kantor Pekerjaan Umum Jepang di Tikala. Dia bertemu dengan sesama anggota tentara KNIL pribumi seperti Papilaya, Picauly dan Komandan Polisi Jepang orang Manado bernama Frans Wangko Sumanti. Mereka kemudian melakukan pergerakan bahwa tanah untuk melawan Jepang.

Setelah kekalahan Jepang, tentara KNIL pribumi diaktifkan kembali. Tapi muali saat itu Chali melakukan penggalangan di kalangan militer untuk berjuang demi tegaknya kemerdekaan Indonesia. Seperti di zaman Jepang, gerakan ini dilakukan secara diam-diam dan dia sengaja mengangkat isu perlakuan diskriminasi seperti, gaji yang tidak sama, pembagian ransum, rokok dan tetap masih adanya perlakuan diskriminatif. Dia kemudian merekrut Sersan SD Wuisan yang ketika itu sebagai Kepala Gudang Senjata dan Peluru. SD Wuisan selanjutnya menjadi orang kepercayaannya di Tangsi Militer Teling untuk melancarkan aksi merebut kemerdekaan yang puncaknya peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946.

Menariknya, peristiwa yang juga dinamakan Kudeta Militer ini, melibatkan dua kekuatan yang besar. Yaitu, Ch Ch Taulu di kalanga militer dan BW Lapian di kalangan sipil. Chali memang melibatkan sipil dalam aksi ini karena melihat kegagalan aksi yang dilakukan Barisan Pemuda Nasional Indonesia (BNPI) dipimpin John Rahasia pada 10 Januari 1946 yang ketika itu ada peringatan hari Perjanjian Belanda dan Minahasa.

Sebelum melancarkan aksi, chali terus melakukan pertemuan dengan BW Lapian. Memang sebelumnya Chali bersama PM Tangkilisan, SD Wuisan dan kawan-kawan pada 7 Februari 1946 bertemu denga  OH Pantouw. Tapi OH Pantouw menyarankan untuk bertemu dengan BW Lapian. Mulanya BW Lapian sempat bertanya apakah 30 orang tentara itu akan mampu mengalahkan militer Belanda yang masih ada sekitar 5/6 batalyon. Tapi.melihat semangat juga yang kuat, BW Lapian langsung memberikan dukungan dan mengatur strategi.

Sampailah pada puncak perjuangan 14 Februari 1946. Meski Ch Ch Taulu, SD Wuisan dan lain-lain ditangkap oleh Belanda, aksi merebut kemerdekaan tetap dilakukan. Mambi Runtukahu ditugaskan untuk memimpin sementara perebutan kekuasaan dwngan menguasai Tangsi Teling. Aksi ini berjalan dengan aman dan lancar dan tidak menyebabkan terjadinya tembak menembak apalahi pertumpahan darah. Setelah berhasil membebaskan Ch Ch Taulu, SD Wuisan di Tangsi Putih, Runtukahu kemudian menyerahkan kepemimpinan kepada Ch Ch Taulu. Mulai saat itu dilakukan penangkapan terhadap pimpinan militer Belanda. Mulanya mengamankan Sersan Mayor Wisjzier yang berada di Tangsi Putih selanjutnya menangkap Kapten Bloom yang rumah dinasnya berada di Sario. Yang lain membebaskan para tahanan dari kalangan sipil dan tokoh pemuda.  Dan menguasai daerah di luar Manado seperti tempatan tahanan tentara Jepang di Wangurer Bitung, kemudian ke Tomohon tempat kediaman Letkol De Vries dan Tondano yabg jadi markas Polisi Belanda. Juga ke Bolaang Mongondow sampai Gorontalo.

Aksi ini langsung menjadi perhatian dunia setelah disiarkan Radio Brisbane Australia yang menangkap berita yang disiarkan Mr Robert Ensleih seorang markonis kapal barang SS Luna berkebangsaan Australia. Dari siaran radion Brisbane ini aksi ini diketahui kantor berita di Makassar, Jogyakarta, San Fransisco AS dan Belanda. Juga langsung ditanggapi oleh Presiden Soekarno yang berada di Jogyakarta. Juga menjadi berita utama sejumlah surat kabar yang ada di Jakarta.

Sekutu memberi perhatian khusus terhadap aksi ini karena mengkhawatirkan keselamatan para tahanan perang Jepang. Karena ini menjadi kesepakatan berakhirnya Perang Dunia II.

Meski akhirnya perlawanan Ch Ch Taulu bisa ditumpas kembali oleh Belanda yang dibantu Sekutu dan tidak solidnya para pejuang, tapi setidaknya peristiwa ini telah membuka mata dunia bahwa Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta adalah kemerdekaan seluruh wilayah Indonesia baik di Indonesia Barat maupun Indonesia Timur.  

Sekaligus juga menegaskan bahwa Minahasa bukan anak emas Belanda apalagi digembar-gemborkan sebagai Provinsi ke 12 Belanda. Juga, unruk pertama kalinya dua kekuatan rakyat menyatu yaitu dari kalangan militer da  kalangan sipil, sampai bendera Merah Putih tetap berkibar selama 25 hari di persada Sulawesi Utara.(dikutip dari skripsi berjudul: ch ch taulu pejuang merah putih di sulawesi utara.*)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved