Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Penyakit Paru-Paru Langka Bakal Tak Langka Lagi, Penyebabnya Rokok Elektrik

Para peneliti menemukan kobalt dalam uap yang dilepaskan rokok elektrik, serta logam beracun lainnya - nikel, aluminium, mangan, timbal dan kromium.

IST/MedicalNewsToday
Ilustrasi rokok elektrik atau vape 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Biasanya penyakit paru-paru langka disebabkan paparan logam industri.

Namun, oleh dokter yang sering merawat pasien penyakit itu menyebutkan bahwa kasus itu kemungkinan menjadi kasus pertama terkait vaping (mengisap rokok elektrik).

Mengutip warta Voice of America, Rabu (11/12/2019), rokok elektronik dijual sebagai pilihan yang lebih aman daripada produk tembakau tradisional dan sebagai alat bantu untuk berhenti merokok.

Tetapi rokok elektronik sudah dikaitkan dengan peningkatan jumlah kematian baru-baru ini dan peringatan kesehatan, terutama di Amerika.

Para peneliti di University of California San Francisco mengatakan pasien mengalami pneumoconiosis hard-metal, yang biasanya ditemukan pada orang yang terpapar logam seperti kobalt atau tungsten yang digunakan untuk mempertajam alat-alat atau menghaluskan berlian.

Kondisi ini menyebabkan batuk terus-menerus dan kesulitan bernapas serta meninggalkan jaringan parut pada jaringan paru-paru.

47 Orang Meninggal karena Rokok Elektrik, 2.290 Orang Dirawat di RS

Kirk Jones, Profesor Klinis Patologi di UCSF, mengatakan, pasien ini tidak pernah merasa terpapar logam keras, jadi timnya mengidentifikasi penggunaan rokok elektronik sebagai kemungkinan penyebabnya.

Studi kasus itu, yang diterbitkan dalam European Respiratory Journal, mengatakan, ketika para peneliti menguji rokok elektronik pasien, yang digunakan bersama ganja, mereka menemukan kobalt dalam uap yang dilepaskannya, serta logam beracun lainnya - nikel, aluminium, mangan, timbal dan kromium.

Ini serupa dengan penelitian lain, yang menunjukkan bahwa unsur logam itu berasal dari kumparan pemanas yang ditemukan dalam perangkat vaping, tidak dari jenis isi ulang tertentu - seperti yang telah diperkirakan sebelumnya.

Ini Tanggapan BPOM Mengenai Rencana Pelarangan Rokok Elektrik

"Paparan debu kobalt sangat jarang di luar beberapa industri tertentu," kata Rupal Shah, asisten profesor kedokteran di UCSF, sebagaimana dikutip dalam studi tersebut.

"Ini adalah kasus pertama yang diketahui mengenai racun akibat logam dalam  paru-paru yang terjadi setelah vaping dan telah menyebabkan jaringan parut pada paru-paru pasien, dalam jangka panjang dan bisa jadi permanen," katanya.

Editorial dari European Respiratory Society yang melengkapi laporan studi mengenai menghentikan merokok itu, menolak penggunaan rokok elektronik sebagai alat bantu dan mengatakan, "Didasarkan pada maksud baik namun tidak benar atau klaim yang tidak terbukti secara sah atau asumsi semata."

Gara-gara Rokok Elektrik, Pemuda 17 Tahun Ini Harus Jalani Cangkok Paru-paru Ganda

Salah seorang penulis editorial itu, Jorgen Vestbo, Profesor jurusan Pengobatan Pernapasan di University of Manchester, mengatakan, "Rokok elektronik berbahaya, menyebabkan kecanduan nikotin dan tidak pernah bisa menggantikan alat berhenti merokok yang sudah terbukti."

Para komentator temuan ini keberatan dengan kaitan itu jika hanya didasarkan pada satu kasus.

Profesor John Britton, Kepala Pusat Studi Tembakau dan Alkohol Inggris dan seorang konsultan kedokteran pernapasan di Universitas Nottingham, mengatakan, meskipun kobalt bisa menyebabkan penyakit, "sulit untuk melihat bagaimana para peneliti bisa mencapai kesimpulan ini mengingat tidak ada partikel kobalt terdeteksi dalam sampel paru-paru dari pasien."

Mengapa Wanita Lebih Sulit Berhenti Merokok daripada Pria?

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved