Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

47 Orang Meninggal karena Rokok Elektrik, 2.290 Orang Dirawat di RS

CDC menyatakan 47 orang tewas dan 2.290 lainnya sakit di AS karena penyakit yang tekait rokok elektrik.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Sigit Sugiharto
Medusajuice.co.uk
Selain kenikmatan luar biasa, ada juga bahaya yang mesti diwaspadai oleh para penggemar vape atau rokok elektrik. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Jumlah korban tewas akibat rokok elektrik atau vape meningkat menjadi 47 orang di seluruh Amerika Serikat (AS) dan 2.290 orang dirawat di rumah sakit.

Demikian angka-angka baru dari Centers for Disease Control and Prevention (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit/CDC) AS sebagaimana ditulis Dailymail.co.uk, Kamis (21/11/2019).

Menurut sebuah laporan, yang dirilis Kamis, tulis Dailymail, sebanyak 2.290 orang telah terjangkiti EVALI (e-cigarette or vaping product use-associated lung illness).

Orang yang terjangkit EVALI atau penyakit paru-paru terkait penggunaan produk vaping atau rokok elektrik ini tersebar di semua negara bagian AS, kecuali Alaska.

Sebagian besar korban adalah laki-laki dan di bawah usia 35, dengan usia mereka yang meninggal berkisar antara 17 hingga 75 tahun.

Meski peningkatan jumlah korban ini tidak terlalu drastis, namun EVALI masih tetap ada dan parah.

Membendung semakin banyaknya remaja yang vaping dan mencegah potensi penyakit yang timbul, pemerintahan Trump telah mengumumkan rencana untuk melarang penjualan vapor beraroma.

Beberapa negara bagian telah memberlakukan UU yang membatasi penjualan vape.

Gubernur Massachusetts Charlie Baker mengatakan, September, bahwa negara akan melarang penjualan semua rokok elektrik selama empat bulan.

Selain itu juga bekerja dengan para ahli medis untuk mengidentifikasi apa yang membuat para perokok elektrik sakit dan bagaimana mengatur lebih baik produk-produk ini untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Larangan Massachusetts adalah yang paling ketat, meskipun New York dan Michigan juga mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penggunaan rokok elektrik.

Kedua negara bagian ini mengumumkan awal November bahwa mereka akan menghentikan penjualan rokok elektrik beraroma.

Kota San Francisco juga mengatakan pada Juni lalu bahwa mereka akan melarang semua penjualan rokok elektrik.

Bulan lalu, seorang atlet berusia 17 tahun terpaksa menjalani transplantasi darurat paru-paru kiri dan kanannya.

Paru-paru remaja itu rusak dan tak bisa lagi mengisap oksigen gara-gara vaping.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved