Tajuk Tamu

Mujiburrahman: Demo dan Kepentingan

Sejak disahkannya UU KPK yang baru, ketidakpercayaan publik terhadap DPR dan pemerintah meningkat.

Mujiburrahman: Demo dan Kepentingan
TRIBUN/IQBAL FIRDAUS
Massa menjebol pagar pada aksi demo di depan Gedung DPR-MPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019). Aksi ini dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai kampus terkait RKUHP dan RUU KPK serta beberapa isu yang sedang bergulir. TRIBUNNEWS.COM/IQBAL FIRDAUS 

Penulis: Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sejak disahkannya UU KPK yang baru, ketidakpercayaan publik terhadap DPR dan pemerintah meningkat hingga membangkitkan demonstrasi para mahasiswa di hampir semua kota besar di Indonesia. Kekuatan apakah gerangan yang menggerakkan anak-anak muda ini?

Roda zaman terus berputar, generasi silih berganti. Para mahasiswa yang dulu berdemonstrasi membuat rezim Soeharto jatuh pada 1998 kini sudah memiliki anak-anak yang menjadi mahasiswa. Si orangtua generasi mesin tik, si anak generasi elektronik.

Si orangtua belum kenal ponsel, si anak hidup bersama ponsel. Si orangtua hanya kenal radio, TV dan koran, si anak pengguna internet dan media sosial.

Peta politik juga beda. Dulu di zaman Soeharto, kebebasan berpendapat dan berserikat sangat terbatas, sedangkan sekarang, kebebasan itu lebih terbuka. Dulu presiden dipilih oleh MPR, sedangkan gubernur, bupati, walikota diusulkan oleh DPRD dan dipilih oleh pusat. Kini semua dipilih langsung oleh rakyat.

Dulu partai politik hanya tiga, dan yang selalu menang hanya satu, Golkar. Kini di tahun 2019, ada 9 partai yang masuk Senayan.

Terlepas dari banyak perbedaan itu, mahasiswa adalah salah satu unsur kekuatan masyarakat sipil yang penting dalam politik Indonesia.

Sebagai anak-anak muda yang umumnya belum menafkahi diri sendiri dan keluarga, mereka relatif terbebas dari kepentingan sempit, terutama di saat-saat kritis, ketika masa depan dipertaruhkan. Mereka pun mudah bekerjasama lintas organisasi, universitas dan agama.

Tentu saja, para mahasiswa, sebagaimana para orangtua mereka, adalah manusia biasa, yang tak bebas dari kepentingan.

Karena itu tak heran, akibat ‘arahan’ dari para senior, mereka bisa saja terjerumus ke jurang fanatisme organisasi, eksklusivisme keagamaan bahkan kesukuan. Kadangkala, ada pula para senior yang memanfaatkan mereka (atau tepatnya, saling memanfaatkan) demi kepentingan tertentu.

Halaman
12
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved