Editorial Tribun Manado
Petaka Karhutla
Bupati Bolmong Yasti Soepredjo-Mokoagow paling merasakan petaka ini. Ia menyebut gunung-gunung di Bolmong tidak lagi hijau tetapi sudah menghitam.
MEMBAKAR lahan untuk membuka lahan adalah hal yang biasa dilakukan para petani. Namun, untuk saat ini di saat musim kemarau dan angin kencang, membakar lahan hanya akan membawa petaka.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi persoalan besar saat ini. Tapi, sebenarnya bukan kali ini saja, tapi beberapa tahun belakangan ini.
Secara nasional, bencana asap akibat karhutla bahkan sampai berurusan dengan negara-negara lain yang terkena dampaknya. Malaysia dan Singapura adalah dua negara yang selalu protes kala asap mengepung daerah mereka.
Di Sulawesi Utara, karhutla juga sudah mengkhawatirkan, walau tidak separah Kalimantan atau Sumatera. Bayangkan, di beberapa daerah di dua pulau besar itu, warga harus menghirup udara tak segar. Mereka harus mengenakan masker.
Siswa-siswa juga terpaksa harus diliburkan dari aktivitas sekolah. Belum lagi pembatalan sejumlah penerbangan. Banyak ruginya.
Tentu saja kerugian terbesar adalah kesehatan warga serta lingkungan kita. Wajar bila ada tuntutan hukum bagi pembakar lahan dan hutan. Presiden Joko Widodo bahkan mengancam pecat para Panglima Kodam dan Kepala Polda yang tidak mampu menangani karhutla.
Kembali ke Sulut, Gubernur Olly Dondokambey mengumpulkan Pangdam dan Kapolda serta para kepala daerah untuk membahas persoalan ini sekaligus menginstruksikan langkah-langkah mendesak untuk pencegahan.
Ada tiga langkah yang disampaikan, yakni pertama, sosialisasi rutin pemangku kepentingan agar tak melakukan pembukaan lahan dengan membakar. Kedua, membentuk satgas hingga ke desa/kelurahan. Ketiga, penegakan aturan.
Baca: BNPB: Kebakaran Lahan Hutan Disengaja, Motifnya Land Clearing
Baca: Jokowi Berdoa Minta Hujan: Beri Tiga Instruksi Atasi Kebakaran Hutan
Dari pemaparan Dinas Kehutanan Sulut, karhutla telah merambah di 8 kota dan kabupaten di Sulut. Dampak terbesar dialami Bolmong dengan 683 Ha habis terbakar. Kemudian Bolmut 198 Ha, Mitra 106,21 Ha, Minsel 113,1 Ha, Minahasa 141 Ha, Minut 271 Ha, Bitung 70 Ha dan Manado 40,6 Ha.
Kepala Dinas Kehutanan Sulut Roy Tumiwa mengatakan, karhutla umumnya diakibatkan oleh ulah manusia sendiri, yakni membuka lahan perkebunan dengan membakar kemudian buang rokok sembarangan.
Bupati Bolmong Yasti Soepredjo-Mokoagow paling merasakan petaka ini. Ia menyebut gunung-gunung di Bolmong tidak lagi hijau tetapi sudah menghitam.
Ia kesal sehingga meminta para pelaku pembakaran ditindak tegas. Supaya ada efek jera, polisi harus menindak pelaku, karena kebakaran ini sudah sangat meresahkan.
Adapun Bupati Minahasa Roy Roring mengatakan, selama 15 hari belakangan ini sudah ini 50 kejadian karhutla. Pihaknya bahkan mendapati ada perusahaan yang terlibat.
BERITA POPULER:
Baca: Cerita Putri Ahmad Yani Obati Luka Batin ke Desa 20 Tahun, Kini Berteman Anak Aidit Tokoh G30S PKI
Baca: Indonesia Idol Dimulai, Para Runner Up & Finalis Ini, Lebih Terkenal dari Juara Pertama, Kutukan?
Baca: Hasil Autopsi Jenazah 7 Perwira AD Gugur saat G30S PKI, Tidak Ada Sayat Kelamin, Ini Detailnya
Butuh kerja sama ekstra untuk mengatasi karhutla ini. Sama seperti kebakaran lainnya, jika tak segera ditangani, dampaknya akan semakin besar.
Selain itu, semua yang sudah terbakar sudah pasti ludes, sehingga upaya pencegahan adalah hal penting yang harus diketahui oleh masyarakat.
Kita berharap upaya sosialisasi yang menjadi solusi harus diwujudkan. Pemerintah dan semua yang berwenang jangan diam, jangan baru bertindak ketika kebakaran itu terjadi. (*)
Baca: Tersangka Karhutla Capai 230 Orang dan 5 Korporasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/karhutla-di-bitung.jpg)