Pengucapan Syukur
Sejarah Pengucapan Akarnya dari Ritual Agama Tua Minahasa, Kuliner Lama Masih Bertahan
Kembali ke masa lampau, pengucapan ini akar sejarahnya dari ritual agama tua Minahasa, bahkan sebelum kristen masuk.
Penulis: Ryo_Noor | Editor: Maickel Karundeng
Pengucapan itu pun berkembang di Minahasa sebagai masyarakat agraris.
Sebagai petani mengandalkan hasil alam, kemudian memaknainya dengan ucapan syukur kepada Pencipta, momen itu dilakukan saat panen.
Ini kemudian yang jadi cikal bakal tarian maengket, dinyanyikan kisah panen padi, naik rumamba, hingga pergaulan anak muda.
Pengucapan syukur itu dirayakan secara konunal dengan pesta dan makan bersama. Biasanya diselenggarakan tiap wanua/kampung tergantung masa panen.
Pengucapan syukur pun jadi tradisi gereja, bahasa sehari -hari orang menyebutnya pengucapan.
Makin terwarisi tradisi ini di tahun 1970 ketika Orang Minahasa lagi booming cengkih
Usai panen, diadakan pengucapan, pun jadi bagian ibadah gerejawi,
Jika dulu pengucapan dominan diadakan oleh tiap kampung, berkembang kemudian pengucalan dominan oleh gereja, kini perkembangan selanjutnya lebih dominan yakni pemerintah
Pengucapan jadi urusan pemerintah, bahkan ikut menentukan harinya bergiliran di tiap wilayah administrasi, bahkan ada yang disesuaikan dengan agenda pemerintah.
Meski di era sekarang nilai pengucapan itu tak lagi seperti dulu berkembang di masyarakat agraris, makanya ada anggapan pemborosan.
Dulu masyarakat agraria memanfaatkan hasil alam kemudian menggelar pengucapan.
Petani mengadakan pengucapan bermodal beras hasil panen, dan hewan hasik ternak atau buruan, semua diambi dari alam.
Sekarang semua serba beli. Itu juga karena mata pencariannya sudah berbeda.
Tapi nilai komunal tetap bertahan, orang datang berkumpul dan makan bersama.
Unsur reilgiusnya dari pengucaoan memudar dan tak sesakral dulu, meski unsur sosialnya masih kental. Belakangan makin berkembang ke agenda politis.(ryo)
Baca: Suntik Gadis 14 Tahun di Kebun, Pemuda Asal Dumagin Dilaporkan ke Polisi
Baca: Kisah Permintaan Terakhir Terpidana Mati Paling Fenomenal, Bikin Bulu Kuduk Merinding
Baca: Tenaga Honorer Diatas 35 Tahun, Diangkat jadi PNS? Simak Penjelasan BKN
Baca: Jokowi Rasakan Guncangan Gempa Bermagnitudo 7.4 SR Saat Dalam Perjalanan
Baca: Pemindahan Ibu Kota Butuh Rp 466 T, Andre Rosiade Menyurat ke Jokowi: Disinilah Jerat Utang
Baca: Struktur PDIP Menyesuaikan Kabinet Jokowi-Maaruf, Jadi Pembahasan di Kongres PDIP
Baca: Polisi Sesalkan Pemilik Rumah Izinkan Anak Gadisnya yang Masih Berstatus Pelajar Ikut Pesta Miras
Baca: Pria Ini Berkenalan Dengan Wanita di Medsos, Saat Bertemu Coba Paksa Berhubungan, Ternyata Laki-Laki
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sejarah-pengucapan66787816540032.jpg)