Tajuk Tamu Tribun Manado
Menakar Makna "Pengucapan" Leluhur Minahasa
Syukur para leluhur muncul sebagai ungkapan terima kasih pada sosok yang tak terlihat tapi diyakini telah memberikan hasil panen yang limpah.
Oleh: Verly Tielung S.Fil
Ketua Pemuda Katolik Minahasa Selatan
"SI tete timete witu un tete tinetean ni tete ne ma tete ni tete." (kakek berjalan di atas jembatan yang dilalui oleh kakek dari kakeknya kakek).
Ungkapan tua leluhur tou Minahasa ini menyiratkan pesan, segala hal baik yang diwariskan para leluhur harus dilanjutkan dan dipelihara secara turun temurun.
Salah satu warisan leluhur yang masih turun temurun terpelihara bahkan akhir-akhir ini makin gempar digelar tou Minahasa adalah budaya "pengucapan syukur" ("pengucapan").
Akar budaya ini jelas. Namun, pemaknaannya perlu ditakar ulang agar praktiknya tidak membias.
Akar Budaya "Pengucapan"
"Segeralah petik padi yang baru. Saatnya kita memetik buah karunia dari Sang Pencipta. Alangkah senang dan gembira ria sama-sama memetik sambil bernyanyi-nyanyi. Padinya makin berkurang isinya, bila kita lupa kepada-Nya. Segeralah kita adakan upacara untuk mengucapkan terima kasih."
Penggalan syair lagu Maowey Kamberu yang ditampilkan pada babak pertama seni tradisional Minahasa (Maengket) ini berisi ungkapan syukur tou Minahasa atas hasil panen yang diterima.
Ungkapan syukur yang sama ditemukan juga dalam upacara adat Minahasa, Mupu' um Bene.
Dalam upacara ini, tou Minahasa membawa padi (hasil panen) dan beberapa hasil bumi lainnya untuk dikumpulkan dan didoakan sebagai bentuk syukur kepada Opo Empung (Tuhan).
Selesai upacara, aneka jenis makanan yang sebelumnya telah dimasak oleh ibu-ibu di tiap rumah disajikan untuk disantap bersama.
Baca: Pengucapan di Langowan, Lebih Ramai Dari Natal, Diwarnai Petasan, Cara Pendeta Atasi Miras
Baca: Warga Manado Ini Akhirnya Bertemu Dengan Saudaranya pada Momen Pengucapan Syukur
Agak mirip Mupu' um Bene, seperti dikemukakan langsung Tonaas Walian, Frangky Boseke, upacara Rumages juga adalah ritual kurban syukur yang sudah ada sejak zaman leluhur Minahasa.
Rumages berasal dari kata rages yang berarti kurban. Tempat untuk meletakkan kurban disebut raragesan.
Pembuat upacara disebut Rumarages (biasanya seorang Tonaas Walian, tapi bisa juga Tonaas). Sedangkan yang dipakai sebagai kurban (biasanya ayam atau babi terbaik) disebut rarages.
Jadi, Rumages adalah ritual syukur adat Minahasa yang dilaksanakan dengan mempersembahkan kurban sebagai ungkapan syukur dan pujian kepada Opo Empung dan juga sekaligus sebagai penghormatan kepada para leluhur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pengucapan-syukur-kota-manado_20170910_170438.jpg)