Tajuk Tamu Tribun Manado

Menakar Makna "Pengucapan" Leluhur Minahasa

Syukur para leluhur muncul sebagai ungkapan terima kasih pada sosok yang tak terlihat tapi diyakini telah memberikan hasil panen yang limpah.

Menakar Makna
ANDREAS RUAUW
Pengucapan Syukur Kota Manado pada 2018. 

Oleh: Verly Tielung S.Fil
Ketua Pemuda Katolik Minahasa Selatan

"SI tete timete witu un tete tinetean ni tete ne ma tete ni tete." (kakek berjalan di atas jembatan yang dilalui oleh kakek dari kakeknya kakek).

Ungkapan tua leluhur tou Minahasa ini menyiratkan pesan, segala hal baik yang diwariskan para leluhur harus dilanjutkan dan dipelihara secara turun temurun.

Salah satu warisan leluhur yang masih turun temurun terpelihara bahkan akhir-akhir ini makin gempar digelar tou Minahasa adalah budaya "pengucapan syukur" ("pengucapan").

Akar budaya ini jelas. Namun, pemaknaannya perlu ditakar ulang agar praktiknya tidak membias.

Akar Budaya "Pengucapan"

"Segeralah petik padi yang baru. Saatnya kita memetik buah karunia dari Sang Pencipta. Alangkah senang dan gembira ria sama-sama memetik sambil bernyanyi-nyanyi. Padinya makin berkurang isinya, bila kita lupa kepada-Nya. Segeralah kita adakan upacara untuk mengucapkan terima kasih."

Penggalan syair lagu Maowey Kamberu yang ditampilkan pada babak pertama seni tradisional Minahasa (Maengket) ini berisi ungkapan syukur tou Minahasa atas hasil panen yang diterima.

Ungkapan syukur yang sama ditemukan juga dalam upacara adat Minahasa, Mupu' um Bene.

Dalam upacara ini, tou Minahasa membawa padi (hasil panen) dan beberapa hasil bumi lainnya untuk dikumpulkan dan didoakan sebagai bentuk syukur kepada Opo Empung (Tuhan).

Halaman
1234
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved