Tajuk Tamu Tribun Manado

Mendidik Orang, Bukan Robot

Robert Kiyosaki menulis, bukan sekolah yang menentukan kesuksesan seorang murid ke depan tetapi alam yang akan memprosesnya dengan cara yang tepat.

Mendidik Orang, Bukan Robot
ISTIMEWA
Adi Tucunan 

Oleh:
Adi Tucunan
* Staf Pengajar FKM Unsrat Manado

KETIKA berada di kelas, saya senang mengamati para anak didik mahasiswa saya, yang berperilaku lazim dengan kebanyakan mahasiswa yang ada. Mereka banyak tidak merasa bahagia di dalam kelas, cepat bosan, mudah mengantuk, suka bermain smartphone dan daya jelajah berpikir sangat terbatas.

Dalam pandangan saya, ada sesuatu yang salah dengan cara sekolah dan kampus memperlakukan anak-anak didik ini, bukan salah mereka sama sekali.

Sekolah dari TK-SMA terus memperlakukan anak-anak muda ini tanpa kasih dengan cara membombardir mereka dengan begitu banyak pelajaran dan teori ilmiah yang diwajibkan untuk dihafal karena akan diujiankan, padahal dunia mereka adalah dunia bermain dan kreativitas dan sebagian besar apa yang dihafalkan tidak pernah benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa diatur cara berbusananya seperti apa, sedangkan hal yang fundamental seperti berpikir kritis tidak pernah diajarkan dengan cukup baik, sehingga mereka harus terus menurut apa kata dosen atau guru dan mereka tidak berdaya untuk melawan ajaran yang sudah kedaluwarsa dari para guru atau dosen yang sudah tidak meng-update ilmu lagi.

Mereka dikecam dengan cara memberi nilai rendah jika tidak menguasai titik koma teori yang ada, padahal jawaban mereka seharusnya bisa berbeda karena jawaban sains tidak akan selamanya pasti karena terus berubah.

Murid dan mahasiswa yang selalu diajar patuh untuk bersikap dengan sebuah ancaman terhadap nilai di atas kertas, sehingga membuat mereka sangat kaku dalam bernalar dan berperilaku adalah sebuah kerugian amat besar bagi dunia pendidikan kita di Indonesia.

Dunia pendidikan kita hari ini banyak mendapat kritikan tajam dari para kritikus pendidikan, termasuk para penulis besar bidang pendidikan dunia, seperti pakar pendidikan Harvard Profesor Gardner, yang menilai dunia pendidikan terlalu akademis dan mengabaikan potensi kecerdasan majemuk dari para anak didik.

Menurutnya, hari ini dunia pendidikan terlampau mendewakan sains dan teknologi, sedangkan ilmu sosial dianggap kelas dua padahal justru ilmu-ilmu sosial itulah yang paling sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dalam memecahkan banyaknya persoalan di tengah masyarakat, tapi itu paling sering diabaikan.

Mengapa mereka mengkritik dunia pendidikan itu? Jelas jawabannya, karena dunia pendidikan konvensional memperlakukan setiap anak didik seperti robot, yang harus terus mengikuti keinginan sang pengendali yaitu institusi pendidikan.

Halaman
123
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved